JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah di pasar spot mengawali perdagangan Kamis (17/9/2026) dengan kondisi tertekan. Posisi kurs rupiah berada pada kisaran Rp 17.725 per dollar Amerika Serikat (AS).
Mengutip data Bloomberg, performa mata uang garuda merosot 29 poin atau setara 0,16 persen jika dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya yang bertengger di angka Rp 17.696 per dollar AS.
Sementara itu, indeks dollar AS (DXY) yang memetakan keperkasaan greenback atas enam mata uang utama dunia, hingga pukul 09.00 WIB tercatat menguat 0,05 persen menuju level 100,315.
Penguatan tersebut meneruskan laju kenaikan DXY yang sempat melesat 0,64 persen pada sesi perdagangan sebelumnya.
Dinamika laju rupiah saat ini sangat dipengaruhi oleh sentimen luar negeri, terutama imbas dari menguatnya dollar AS di kancah global selepas The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuannya.
Sebagai informasi, langkah ini menjadi kali pertama bagi The Fed dalam menaikkan suku bunga acuan selama tiga tahun terakhir.
Melalui keputusan yang dirilis Rabu (17/9/2026) waktu setempat, Federal Open Market Committee (FOMC) menyepakati kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps). Keputusan tersebut diambil lewat persetujuan bulat 12-0.
Berkat penaikan ini, rentang suku bunga federal funds rate kini dipatok di kisaran 3,75 persen hingga 4 persen.
Pihak The Fed menegaskan bahwa penyesuaian suku bunga ini dibutuhkan untuk meredam laju inflasi yang masih belum menyentuh target bank sentral sebesar 2 persen.
“Inflasi masih tinggi,” kata FOMC dalam pernyataan setelah rapat, dikutip dari CNBC internasional, Kamis (17/9/2026).
“Langkah kebijakan hari ini akan mendukung kembalinya inflasi secara lebih tepat waktu menuju target Komite sebesar 2 persen. Komite akan mewujudkan stabilitas harga,” lanjut pernyataan tersebut.
Ketua The Fed Kevin Warsh mengungkapkan bahwa inflasi AS sudah terlampau tinggi dalam kurun waktu yang terbilang lama.
“Kami harus yakin bahwa inflasi yang mendasari bergerak menuju tujuan kami secara jelas dan dengan kecepatan yang memadai,” ujar Warsh dalam konferensi pers.
“Hari ini, FOMC memutuskan bahwa standar tersebut belum terpenuhi,” lanjut dia.
Dirinya menyebut indikator ekonomi AS masih menunjukkan tatanan yang solid, tak terkecuali sektor pasar tenaga kerja.
Akan tetapi, tingkat inflasi masih enggan beranjak dari atas target The Fed. Di samping itu, dinamika ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut menjadi pertimbangan penting dalam membulatkan keputusan kenaikan suku bunga.
“Ketiga hal tersebut mengarah pada keputusan tegas dan bulat hari ini,” kata Warsh.
Kenaikan suku bunga ini sejatinya telah diprediksi oleh para pelaku pasar.
Kalangan pasar sebelumnya memperhitungkan peluang The Fed menaikkan suku bunga berada di atas 90 persen.
Meskipun demikian, sempat muncul spekulasi mengenai potensi ketidaksetujuan beberapa pejabat The Fed atas keputusan tersebut.
Kondisi data inflasi yang masih tinggi serta penuturan Warsh pada beberapa pekan sebelumnya semakin mempertegas ekspektasi bahwa The Fed bakal mendongkrak suku bunga untuk pertama kalinya sejak Juli 2023.
Tinjauan proyeksi paling gres dari FOMC pun memperlihatkan bahwasanya mayoritas pejabat The Fed tetap membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan di sisa tahun ini.
Mengacu pada dot plot atau matriks proyeksi suku bunga tiap pejabat, sebanyak 16 dari total 18 peserta memperkirakan masih berpotensi terjadi satu kali kenaikan suku bunga.
Warsh belum pernah membagikan proyeksi sejenis sejak mula memegang jabatan.
Dari 16 pejabat tadi, empat di antaranya memprediksi adanya opsi dua kali kenaikan tambahan. Di sisi lain, dua pejabat memperkirakan FOMC bakal menghentikan penyesuaian pasca-kenaikan periode ini.
Untuk periode tahun-tahun berikutnya, tidak ada perkiraan kenaikan suku bunga yang dipetakan.
Namun begitu, estimasi menunjukkan opsi satu kali penurunan suku bunga pada 2028 serta minimal satu kali pemangkasan di tahun 2029.
Jajaran pejabat suku bunga The Fed turut merevisi naik estimasi inflasi tahun ini. Inflasi mengacu pada indeks harga personal consumption expenditures (PCE) diperkirakan menembus 3,7 persen.
Sedangkan inflasi inti, yang mengesampingkan komponen harga pangan dan energi, diperkirakan menyentuh angka 3,4 persen.
Kedua kalkulasi tersebut sama-sama merangkak naik 0,1 poin persentase bila disandingkan dengan estimasi pada bulan Juni.
Pihak The Fed mengestimasi target inflasi 2 persen baru dapat terealisasi penuh pada 2029.
Kendati demikian, otoritas bank sentral AS tersebut memproyeksikan inflasi bakal merosot cukup signifikan di tahun 2027. Inflasi PCE utama diperkirakan susut menuju 2,3 persen, sedangkan inflasi inti melandai ke 2,5 persen.
Sebelum ditetapkannya keputusan anyar ini, The Fed konsisten menahan suku bunga sepanjang tahun. Arah komando kebijakan baru mengalami pergeseran di penghujung Agustus ketika para pejabat mulai melunak terhadap potensi kenaikan suku bunga.