BNI

BNI (BBNI) Menyusun Strategi Buyback Saham Hingga Rp1,50 Triliun

BNI (BBNI) Menyusun Strategi Buyback Saham Hingga Rp1,50 Triliun

JAKARTA - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) kembali menarik perhatian pasar modal dengan menyusun aksi korporasi penting, yaitu rencana buyback atau pembelian kembali saham milik perseroan. Langkah ini dimaksudkan bukan sekadar langkah teknis, melainkan bagian dari strategi perusahaan dalam menghadapi tekanan jual di pasar saham saat ini.

Latar Belakang Buyback Saham BNI

BBNI mengungkapkan, nilai pembelian kembali saham direncanakan mencapai Rp1,50 triliun. Angka ini mencakup seluruh biaya yang berkaitan dengan transaksi, termasuk biaya komisi, penyimpanan, dan fee lain yang diperkirakan berada di kisaran 0,32% dari total nilai buyback.

Menurut Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo Budiprabowo, aksi buyback ini dilakukan sebagai respons atas kondisi pasar yang masih dipenuhi oleh tekanan jual. Hal tersebut membuat harga saham perbankan—termasuk BBNI—kurang mencerminkan fundamental bisnis yang solid.

Okki menjelaskan bahwa meskipun saham BNI mencatat kenaikan tipis pada akhir tahun lalu, pertumbuhan harga saham masih jauh dari mencerminkan nilai fundamental perusahaan yang kuat. Ini menjadi sinyal bahwa buyback saham menjadi salah satu cara untuk meredam tekanan pasar.

Mekanisme dan Jadwal Pelaksanaan Buyback

Rencana buyback saham ini masih menunggu persetujuan dari pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang dijadwalkan pada 9 Maret 2026. Jika mendapatkan restu, BBNI bisa melaksanakan pembelian kembali saham secara bertahap atau sekaligus selama periode 12 bulan setelah disetujuinya aksi korporasi tersebut.

Periode buyback yang cukup panjang ini sejalan dengan peraturan pasar modal yang berlaku, termasuk ketentuan dari Peraturan OJK 29/2023 yang mengatur batasan dan tata cara aksi buyback oleh emiten di Indonesia.

Menurut keterbukaan informasi yang dirilis BNI kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), nilai pembelian kembali saham tersebut direncanakan tidak melebihi 10% dari jumlah modal yang ditempatkan dan berasal dari arus kas bebas (free cash flow) berupa saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya.

Strategi Menghadapi Tekanan Pasar Saham

Manajemen BBNI menilai bahwa pasar saham perbankan Indonesia masih menghadapi tekanan cukup berat, baik dari faktor global maupun domestik. Ketidakpastian geopolitik dan ancaman perang tarif dipandang terus menjadi faktor risiko yang mempengaruhi sentimen pasar.

Sementara itu, dalam negeri, sektor perbankan juga menghadapi tantangan terkait likuiditas serta perlambatan permintaan kredit. Kondisi ini menjadikan harga saham bank sacara umum lebih rendah dibandingkan dengan bank-bank regional lainnya.

Okki pun menegaskan bahwa pelaksanaan buyback bertujuan mengurangi tekanan jual di pasar dan sekaligus memberi sinyal kepada investor bahwa manajemen menilai harga saham saat ini belum sepenuhnya mencerminkan kinerja fundamental perusahaan.

Di sisi lain, pihak manajemen yakin bahwa pembelian kembali saham tidak akan berdampak negatif secara material terhadap operasi bisnis BNI karena perseroan memiliki modal dan arus kas yang cukup untuk menjalankan strategi ini sementara tetap memenuhi kewajiban dan pengembangan usaha.

Fundamental Perusahaan Tetap Solid

Meskipun harga saham BNI tidak menunjukkan apresiasi besar dalam setahun terakhir, manajemen menekankan bahwa kinerja fundamental perseroan tetap kuat dan resilient. Berdasarkan pengungkapan perusahaan, permodalan masih solid, kualitas aset tetap terjaga, dan pertumbuhan kredit berjalan seimbang di semua segmen bisnis.

Selain itu, dukungan transformasi digital dan pertumbuhan dana murah menjadi kekuatan internal yang menopang kinerja keuangan dan operasional bank. Ini juga menjadi dasar pertimbangan manajemen bahwa langkah buyback bukan hanya reaktif terhadap pasar, tetapi juga bagian dari strategi jangka panjang.

Dari sisi pasar, harga saham BBNI memang sempat mengalami tekanan, namun tetap mencatat sedikit kenaikan sepanjang awal tahun ini. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun sentimen pasar masih hati-hati, ada potensi pemulihan seiring berjalannya aksi perusahaan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index