JAKARTA – Posisi nilai tukar rupiah mengawali perdagangan hari Jumat (3/7/2026) di zona hijau dengan apresiasi sebesar 0,23% atau terapresiasi 42 poin menuju level Rp17.953 per dolar AS. Pada waktu yang bersamaan, pergerakan indeks dolar AS (DXY) terpantau melandai tipis sebesar 0,02% ke posisi 100,83.
Saat ini, arah pergerakan mata uang garuda di pasar valuta asing disetir oleh kombinasi dari sentimen eksternal dan kondisi dalam negeri. Rentetan faktor tersebut diperkirakan membuat pergerakan rupiah bergulir fluktuatif dan berisiko ditutup melemah di akhir sesi nanti.
Ibrahim Assuaibi selaku pengamat pasar uang dan komoditas memproyeksikan kurs rupiah hari ini akan mendarat di zona merah pada rentang Rp17.990 sampai Rp18.050 per dolar AS.
Sebagai informasi, pada sesi penutupan perdagangan Kamis (2/7) kemarin, rupiah finis melemah 43 poin ke level Rp17.995 per dolar AS.
Ibrahim menjabarkan bahwa pelaku pasar saat ini mengalkulasi adanya probabilitas sebesar 67% terkait rencana kenaikan suku bunga acuan oleh The Fed pada pertemuan bulan September mendatang.
Selain kebijakan moneter AS, eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah juga terus dipantau secara ketat oleh para investor.
Berdasarkan perkembangan terbaru dari otoritas Qatar, pihak Iran dan AS dilaporkan telah menorehkan kemajuan yang konstruktif dalam rangkaian dialog tidak langsung yang berakhir pada hari Rabu lalu. Agenda perundingan ini difokuskan pada upaya pembukaan blokade di kawasan Selat Hormuz.
"Meskipun lalu lintas telah sebagian pulih, kedua negara saling menyerang akhir pekan lalu setelah serangan Iran terhadap kapal kargo," kata Ibrahim, dikutip Jumat (3/7/2026).
Sementara dari aspek domestik, Ibrahim menilai tingkat kepercayaan para pemodal terhadap iklim investasi Indonesia sedang diuji menyusul hadirnya jajaran kabar negatif sepanjang kuartal kedua ini.
Rentetan isu seperti penanganan kasus korupsi kakap, kecemasan fiskal pasca-defisit neraca perdagangan per Mei, kenaikan angka inflasi, hingga penundaan pengumuman indeks oleh MSCI berpadu mengikis sentimen positif investor.
"Selain itu, data Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis S&P Global menunjukkan PMI Indonesia berada di 46,9 pada Juni 2026. Ini adalah tingkat penurunan yang paling kuat dalam setahun," tandasnya.