JAKARTA - Upaya pemanfaatan energi alternatif terus dilakukan untuk mendukung keberlanjutan sektor kelistrikan nasional.
Salah satu langkah yang kini mulai diperkuat adalah penggunaan biomassa sebagai campuran bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap.
Strategi ini tidak hanya bertujuan mengurangi ketergantungan pada batu bara, tetapi juga memanfaatkan limbah pertanian yang tersedia melimpah di berbagai daerah di Indonesia.
Pemanfaatan biomassa menjadi bagian penting dalam program transisi energi yang dijalankan oleh PT PLN (Persero). Melalui pendekatan ini, berbagai jenis limbah organik seperti cangkang sawit, serbuk kayu, hingga wood pellet dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif dalam proses pembangkitan listrik.
Dalam upaya memperkuat program tersebut, PT PLN Energi Primer Indonesia melakukan pengiriman biomassa dalam jumlah besar untuk mendukung operasional pembangkit listrik. Pengiriman ini menjadi salah satu langkah penting dalam mendorong pemanfaatan energi terbarukan di sektor kelistrikan.
Pengiriman Biomassa ke PLTU Teluk Balikpapan
PT PLN Energi Primer Indonesia (EPI) mengirimkan 6.700 ton biomassa dari limbah sawit (dalam bentuk cangkang sawit) untuk sumber pembangkitan listrik di PLTU Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya PLN dalam memanfaatkan biomassa sebagai bahan bakar campuran pada pembangkit listrik tenaga uap. Dengan memanfaatkan limbah sawit sebagai sumber energi, pembangkit listrik dapat mengurangi penggunaan bahan bakar fosil sekaligus mendukung pemanfaatan sumber daya lokal.
Pengiriman biomassa dalam jumlah besar ini juga menjadi bukti bahwa pemanfaatan energi alternatif mulai dilakukan secara lebih serius dalam sistem pembangkitan listrik nasional.
Pengiriman Terbesar Biomassa oleh PLN EPI
Direktur Biomassa PT PLN EPI Hokkop Situngkir mengatakan, pengiriman biomassa sebanyak 6.700 ton dalam sekali kirim menjadi yang terbesar. Sebelumnya, sudah ada pengiriman biomassa jenis sawdust menggunakan tongkang ke PLTU Tanjung Awar-awar Tuban sebanyak 5.600 ton.
"Ini adalah pengiriman terbesar. Sekali kirim 6.700 ton biomassa. Saya harap, ini adalah awal yang baik untuk mencapai target 3,65 juta ton di 2026 ini," ujar Hokkop.
Pengiriman ini menunjukkan peningkatan kapasitas distribusi biomassa yang dilakukan oleh PLN EPI. Dengan volume pengiriman yang semakin besar, diharapkan pemanfaatan biomassa sebagai bahan bakar pembangkit listrik dapat terus meningkat.
Target distribusi biomassa yang mencapai jutaan ton pada tahun 2026 juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang dalam mendukung transisi energi nasional.
Cangkang Sawit sebagai Biomassa Premium
Menurut Hokkop, cangkang sawit merupakan salah satu jenis biomassa premium selain wood pellet. Kandungan kalori cangkang sawit cukup tinggi, hampir menyamai kalori batu bara.
"Dengan demikian, cofiring biomassa di PLTU juga akan semakin besar lantaran kualitas cangkang sawit yang mumpuni," imbuh dia.
Cangkang sawit memang dikenal memiliki nilai kalor yang cukup tinggi dibandingkan beberapa jenis biomassa lainnya. Hal ini membuatnya sangat cocok digunakan sebagai bahan bakar campuran dalam sistem pembangkit listrik tenaga uap.
Melalui teknologi cofiring, biomassa dapat dicampurkan dengan batu bara dalam proses pembakaran di pembangkit listrik. Metode ini memungkinkan pengurangan penggunaan batu bara tanpa harus mengganti seluruh sistem pembangkit yang sudah ada.
Pengangkutan Biomassa Melalui Jalur Laut
Di sisi lain, pengiriman biomassa menggunakan tongkang sangat sesuai dengan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan. Ditambah lagi, hampir semua PLTU milik PLN bisa diakses via perairan dan memilik jetty sendiri.
Selain itu, pengangkutan biomassa melalui perairan juga volumenya jauh lebih besar dibanding pengangkutan via darat.
Transportasi laut memungkinkan distribusi biomassa dalam jumlah besar dengan biaya yang lebih efisien. Hal ini menjadi salah satu solusi penting dalam mendukung distribusi energi alternatif di Indonesia yang memiliki wilayah sangat luas dan terdiri dari banyak pulau.
Penggunaan tongkang sebagai sarana pengangkutan juga memudahkan pengiriman biomassa dari daerah penghasil menuju pembangkit listrik yang berada di berbagai wilayah.
Indonesia Kaya Bahan Mentah Biomassa
Hokkop menyampaikan, keberadaan bahan mentah (raw material) biomassa di Indonesia tersebar. Semisal di Kalimantan dengan banyak cangkang sawit, namun berbeda dengan pulau lain.
Keberagaman sumber biomassa di berbagai daerah menjadi potensi besar bagi pengembangan energi terbarukan di Indonesia. Setiap wilayah memiliki jenis biomassa yang berbeda sesuai dengan sumber daya alam yang tersedia.
Dengan pengelolaan yang tepat, berbagai jenis limbah organik tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif untuk pembangkit listrik.
Distribusi Biomassa Antarwilayah
Oleh karena itu, pengangkutan biomassa menggunakan tongkang merupakan salah satu solusi agar laut tak lagi jadi penghalang pendistribusian biomassa antarpulau di Indonesia.
"Bukan tidak mungkin ke depan, cangkang sawit dari Kalimantan dikirimkan ke PLTU di Sulawesi. Sebelumnya, sawdust dari Sulawesi pernah dikirimkan ke PLTU Tuban, Jawa Timur. Transportasi laut adalah salah satu solusi untuk pemerataan pasokan biomassa sesuai target di masing-masing PLTU," tuturnya.
Distribusi biomassa antarwilayah menjadi langkah penting dalam memastikan pasokan bahan bakar pembangkit listrik tetap tersedia. Dengan sistem distribusi yang baik, pembangkit listrik di berbagai daerah dapat memanfaatkan biomassa sesuai kebutuhan.
Upaya ini juga mendukung pemerataan pemanfaatan energi terbarukan di seluruh wilayah Indonesia.
Melalui pemanfaatan biomassa secara lebih luas, sektor kelistrikan nasional diharapkan dapat bergerak menuju sistem energi yang lebih ramah lingkungan sekaligus memanfaatkan potensi sumber daya lokal yang tersedia di berbagai daerah.