JAKARTA — Nilai tukar mata uang rupiah berakhir melemah di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) pada sesi perdagangan penutupan pekan, Jumat (26/6/2026).
Para pelaku pasar terpantau condong mengambil sikap defensif dan waspada menjelang publikasi beberapa rilis data indikator ekonomi krusial pada awal pekan mendatang.
Menilik data dari TradingView, posisi nilai tukar rupiah bertengger di zona merah dengan pelemahan sebesar 0,18% menuju level Rp17.970 per dolar AS.
Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengutarakan bahwa mata uang rupiah sebetulnya mengantongi modal untuk bergerak menguat selaras dengan mendinginnya spekulasi pelaku pasar mengenai potensi kenaikan tingkat suku bunga bank sentral AS (The Fed).
Faktor pendorong sentimen positif itu dipicu oleh kelanjutan tren penurunan harga minyak mentah di kancah global.
Situasi tersebut memicu para pelaku pasar mulai memangkas proyeksi arah kebijakan moneter The Fed yang semula diperkirakan bakal lebih agresif, sehingga tekanan terhadap kinerja mata uang di negara-negara berkembang, termasuk rupiah, berangsur-angsur melandai.
Kendati demikian, dalam pandangan Lukman, dinamika gerak rupiah diproyeksikan bakal kembali diwarnai oleh volatilitas pada perdagangan hari Senin (29/6/2026).
Kalangan investor diperkirakan bakal menerapkan strategi yang lebih berhati-hati sebelum rilis data ekonomi penting diumumkan, baik yang berasal dari lanskap domestik maupun pasar mancanegara.
Di samping itu, para pelaku pasar terus menaruh perhatian mendalam pada gejolak pasar saham global, khususnya fluktuasi harga saham di sektor teknologi serta kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang belakangan ini bertindak sebagai salah satu motor utama penggerak sentimen pemodal.
Pergeseran arah pergerakan pada saham-saham teknologi tersebut dipandang berpotensi memberikan pengaruh terhadap selera investasi pada aset-aset berisiko, termasuk arus keluar-masuk modal (capital flow) ke pasar negara berkembang.
Dengan mencermati jajaran sentimen tersebut, Lukman memberikan proyeksi bahwa pergerakan rupiah akan berjalan fluktuatif pada pembukaan pekan depan dalam rentang kisaran Rp17.900 hingga Rp18.000 per dolar AS.
Penyusutan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ini juga berjalan beriringan dengan rapor pergerakan mayoritas mata uang di kawasan Asia.
Baht Thailand mencatatkan koreksi terdalam dengan penurunan sebesar 0,14%, diikuti oleh yuan China yang melemah 0,05%, dolar Taiwan menyusut 0,02%, dan dolar Hong Kong turun tipis 0,01%.
Berseberangan dengan tren tersebut, mata uang ringgit Malaysia justru berhasil menguat sebesar 0,66%, disusul oleh won Korea Selatan sebesar 0,43%, dolar Singapura terangkat 0,16%, yen Jepang merangkak naik 0,10%, serta peso Filipina yang menguat tipis 0,03%.