JAKARTA — PT Bukalapak.com Tbk. (BUKA) memutuskan untuk mengarahkan lini operasionalnya pada percepatan empat pilar bisnis utama setelah menyetop penjualan produk fisik secara langsung semenjak 2025.
Proses transformasi tersebut meliputi fokus dan optimalisasi menyeluruh pada segmen Mitra Bukalapak, ekosistem gaming, platform investasi, serta lini ritel.
Corporate Secretary Bukalapak Cut Fika Lutfi mengonfirmasi bahwa sejak awal tahun 2025, perusahaan secara resmi menghentikan penjualan produk fisik langsung lewat aplikasi maupun situs web mereka.
- Baca Juga Raih GCG Awards 2026, PNM Layani 23,
Penataan ulang model bisnis ini merefleksikan langkah manajemen demi menjamin tiap lini usaha tetap adaptif terhadap dinamika pasar.
“Transformasi ini dilakukan sekaligus untuk memastikan setiap lini bisnis tetap relevan dengan pasar dan memberikan dampak ekonomi yang lebih kuat,” ujar Fika dalam keterangan resmi, Rabu (24/6/2026).
Di tengah masa peralihan tersebut, perusahaan melaporkan adanya kenaikan pada pos pendapatan tahunan yang membukukan nominal Rp6,5 triliun pada 2025.
Tren positif dari model bisnis baru ini selanjutnya bertahan sampai kuartal I/2026, di mana perusahaan mencatatkan pendapatan bersih senilai Rp2,4 triliun.
Percepatan pada pos pendapatan itu ikut mendorong perolehan kinerja operasional perusahaan pada masa tiga bulan pertama tahun ini. Perusahaan berhasil mencetak Adjusted EBITDA positif senilai Rp4 miliar pada kuartal I/2026, berbalik dari kondisi kuartal I/2025 yang minus Rp20 billion.
Saat ini, taktik pertumbuhan berkelanjutan perusahaan bersandar pada percepatan empat lini bisnis utama yang kini beroperasi secara bersinergi.
Pilar pertama ialah segmen Online-to-Offline (O2O) Mitra Bukalapak yang berkonsentrasi pada pemberdayaan warung tradisional melalui solusi penyaluran produk virtual. Pilar kedua ialah sektor usaha Gaming di bawah pengelolaan Multi Realm Games (MRG) yang mengoperasikan Lapakgaming dan saat ini menjadi penyumbang pendapatan terbesar bagi BUKA.
Sementara itu, pilar ketiga lewat segmen investasi melalui BMoney yang telah menghimpun dana kelolaan sebesar Rp6 triliun dari 1 juta pemakai. Terakhir, pada pilar keempat di lini ritel, BUKA bertumpu pada kemitraan eksklusif bersama brand gaya hidup global seperti ADLV serta National Geographic demi memperkuat pendapatan perusahaan.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.