THR

Cara Bijak Membagi THR Untuk Keponakan Supaya Keuangan Tetap Aman

Cara Bijak Membagi THR Untuk Keponakan Supaya Keuangan Tetap Aman
Cara Bijak Membagi THR Untuk Keponakan Supaya Keuangan Tetap Aman

JAKARTA - Tradisi berbagi THR atau yang sering disebut masyarakat sebagai “salam tempel” sudah menjadi bagian penting dari perayaan Idul Fitri di Indonesia. 

Setiap Lebaran, anak-anak biasanya menanti momen ketika keluarga yang lebih tua memberikan amplop berisi uang sebagai bentuk kasih sayang. Bagi banyak orang, kebiasaan ini bukan sekadar memberi uang, tetapi juga menjadi simbol kebahagiaan dan kehangatan dalam keluarga.

Pada tahun 2026, tradisi ini tetap bertahan meskipun teknologi berkembang sangat pesat. Kini masyarakat tidak hanya memberikan THR dalam bentuk uang tunai di dalam amplop, tetapi juga melalui berbagai layanan digital. Meski begitu, sensasi menerima amplop langsung dari keluarga tetap memberikan kesan tersendiri, terutama bagi anak-anak.

Namun di balik kebahagiaan tersebut, ada satu hal yang sering menjadi perhatian banyak orang, yaitu bagaimana cara tetap berbagi tanpa membuat kondisi keuangan menjadi terganggu setelah Lebaran. Tanpa perencanaan yang baik, kebiasaan memberi THR bisa membuat pengeluaran meningkat drastis.

Karena itu, memahami cara berbagi yang bijak menjadi hal penting agar tradisi tetap berjalan tanpa membuat dompet menjadi “boncos”.

Sejarah Tradisi THR di Indonesia

Tidak banyak yang mengetahui bahwa kebiasaan memberikan uang kepada anak-anak saat Lebaran memiliki sejarah yang cukup panjang. Tradisi ini dipercaya berasal dari budaya Timur Tengah yang kemudian berakulturasi dengan budaya lokal di Indonesia.

Dalam perkembangannya, praktik berbagi hadiah kepada anak-anak juga pernah dilakukan pada masa Kerajaan Mataram Islam. Pada abad ke-16, para raja dan bangsawan kerap memberikan hadiah kepada anak-anak pengikutnya sebagai bentuk rasa syukur setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh.

Pakar antropologi Universitas Airlangga, Djoko Adi Prasetyo menjelaskan bahwa konsep THR modern mulai dikenal masyarakat pada masa pemerintahan Indonesia setelah kemerdekaan. 

Ia menjelaskan bahwa budaya THR pertama kali muncul pada era kabinet Soekiman Wirjosandjojo dari Partai Masyumi dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan aparatur negara.

Seiring waktu, kebiasaan ini berkembang menjadi tradisi sosial yang lebih luas. Kini hampir semua keluarga di Indonesia menjalankan tradisi berbagi THR, khususnya kepada anak-anak atau keponakan.

Selain itu, masyarakat juga memiliki kebiasaan memberikan uang baru yang masih rapi sebagai simbol penghormatan dan kasih sayang. Hal ini membuat banyak orang rela mengantre di bank menjelang Lebaran hanya untuk menukar uang pecahan baru.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, tradisi ini mulai beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Kehadiran dompet digital dan pembayaran berbasis QRIS membuat sebagian masyarakat mulai memanfaatkan fitur “Angpau Digital” sebagai alternatif yang lebih praktis.

Menentukan Nominal THR Berdasarkan Usia

Salah satu cara agar pengeluaran tetap terkendali adalah dengan menentukan nominal THR berdasarkan usia penerima. Pendekatan ini dianggap lebih adil karena kebutuhan dan pemahaman anak terhadap uang juga berbeda sesuai tahap perkembangan mereka.

Untuk anak usia balita atau prasekolah, nominal yang diberikan biasanya berkisar antara Rp5.000 hingga Rp10.000. Pada usia ini, tujuan pemberian uang lebih kepada pengenalan bentuk dan warna uang.

Sementara itu, anak yang sudah duduk di bangku sekolah dasar biasanya menerima nominal yang sedikit lebih besar, yakni sekitar Rp20.000 hingga Rp50.000. Pada tahap ini, anak mulai belajar melakukan transaksi sederhana seperti membeli makanan atau mainan.

Adapun untuk remaja yang berada di tingkat SMP atau SMA, nominal THR umumnya berada pada kisaran Rp50.000 hingga Rp100.000. Selain memberikan kebahagiaan, uang tersebut juga bisa menjadi sarana belajar mengelola keinginan dan kebutuhan.

Memberikan nominal berbeda berdasarkan usia juga dapat dijelaskan kepada anak-anak sebagai bagian dari pembelajaran. Dengan begitu, mereka memahami bahwa perbedaan jumlah bukan berarti perlakuan tidak adil.

Cara Mengatur Anggaran THR Agar Tidak Boncos

Agar tidak terjebak dalam pengeluaran berlebihan, para perencana keuangan biasanya menyarankan agar alokasi dana untuk berbagi THR dibatasi. Salah satu pendekatan yang sering digunakan adalah mengalokasikan maksimal 15 hingga 20 persen dari total pendapatan THR pribadi untuk dibagikan kepada keluarga.

Dengan cara ini, seseorang tetap bisa berbagi kebahagiaan tanpa mengorbankan kondisi keuangan setelah Lebaran. Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah membuat daftar penerima THR sejak awal.

Daftar ini membantu memperkirakan jumlah amplop yang perlu disiapkan serta nominal yang akan diberikan. Setelah itu, tentukan total anggaran yang tersedia dan bagi secara proporsional sesuai prioritas keluarga.

Selain itu, penting juga untuk tidak merasa tertekan oleh ekspektasi sosial. Tradisi THR seharusnya menjadi bentuk kasih sayang, bukan kompetisi dalam memberikan jumlah uang yang besar.

Memberikan THR sesuai kemampuan justru mencerminkan pengelolaan keuangan yang sehat. Dengan perencanaan yang matang, seseorang tetap dapat menikmati momen Lebaran tanpa harus khawatir terhadap kondisi finansial setelahnya.

Momen Mengajarkan Literasi Keuangan pada Anak

Memberikan THR sebenarnya tidak hanya tentang berbagi uang, tetapi juga kesempatan untuk mengajarkan nilai penting kepada anak-anak. Momen ini dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan konsep literasi keuangan sejak dini.

Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengajak anak membagi uang THR yang mereka terima ke dalam tiga bagian utama.

Bagian pertama adalah untuk tabungan. Uang yang disimpan dapat digunakan untuk keinginan jangka panjang, seperti membeli barang yang mereka inginkan di kemudian hari.

Bagian kedua adalah untuk kebutuhan saat ini. Anak dapat menggunakan sebagian uangnya untuk membeli sesuatu yang mereka sukai sebagai bentuk apresiasi setelah menjalani puasa.

Bagian ketiga adalah untuk berbagi atau sedekah. Mengajarkan anak menyisihkan sebagian uangnya untuk membantu orang lain dapat menumbuhkan rasa empati dan kepedulian sosial.

Dengan cara ini, tradisi THR tidak hanya menjadi kegiatan memberi uang, tetapi juga sarana pendidikan yang berharga bagi generasi muda.

Menjaga Makna Berbagi Saat Lebaran

Pada akhirnya, tradisi berbagi THR kepada keponakan atau anak-anak keluarga tetap memiliki nilai yang sangat penting dalam budaya Lebaran di Indonesia. Kegiatan ini menjadi simbol kasih sayang sekaligus mempererat hubungan antaranggota keluarga.

Baik diberikan dalam bentuk amplop fisik maupun melalui layanan digital, esensi kebahagiaan tetap sama. Anak-anak akan selalu mengingat momen ketika mereka menerima THR dari keluarga.

Namun yang terpenting adalah memastikan bahwa tradisi tersebut dilakukan dengan bijak dan sesuai kemampuan. Dengan perencanaan anggaran yang tepat, seseorang tetap dapat berbagi kebahagiaan tanpa harus mengorbankan stabilitas finansial di masa depan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index