JAKARTA - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Lhokseumawe tetap dilaksanakan selama bulan suci Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi dengan mekanisme berbeda dibanding hari normal. Penyesuaian ini dilakukan untuk mengakomodasi pelaksanaan ibadah puasa umat Muslim sekaligus memastikan penerima manfaat tetap menerima asupan gizi yang layak dalam periode ibadah besar tersebut.
Penyesuaian Distribusi MBG Selama Ramadan dan Sistem Bundling
Penyelenggaraan MBG di Lhokseumawe pada Ramadan kali ini menerapkan sistem bundling untuk pendistribusian makanan. Sistem bundling dilakukan dengan penggabungan paket makanan kemasan sehat untuk beberapa hari sekaligus, dan diserahkan dalam satu kali pemberian. Mekanisme ini berlaku agar distribusi tetap efektif di tengah jadwal ibadah yang berbeda selama puasa.
Pendistribusian bundling dilakukan setiap Senin dan Kamis dengan paket yang mencakup tiga hari sekaligus. Sebagai contoh, paket yang dibagikan pada hari Senin mencakup kebutuhan hari Senin, Selasa, dan Rabu, sementara paket yang dibagikan pada hari Kamis mencakup kebutuhan hari Kamis, Jumat, dan Sabtu. Dengan demikian, setiap penerima manfaat akan mendapatkan makanan untuk beberapa hari yang nantinya bisa dikonsumsi sesuai kebutuhan, terutama saat waktu berbuka puasa.
Rekomendasi Menu dan Metode Pengantaran di Masa Ramadan
Selain perubahan metode distribusi, pihak penyelenggara juga mengimbau agar menu yang dibagikan selama Ramadan berupa makanan kering atau semi kering yang tahan untuk dikonsumsi saat berbuka puasa. Hal ini dimaksudkan agar makanan tetap layak dikonsumsi walaupun disiapkan lebih awal dan disimpan sampai waktu berbuka.
Penjadwalan waktu pendistribusian antara pukul 15.30 hingga 17.00 WIB juga dipilih agar paket makanan bisa diterima sebelum waktu berbuka puasa. Penyaluran dilakukan di sekolah atau titik posyandu, dengan paket diterima langsung oleh orang tua atau wali penerima manfaat. Pola ini dianggap lebih sesuai dengan kondisi ibadah Ramadan dibandingkan jadwal siang hari yang berlaku pada bulan-bulan biasa.
Tujuan Penyesuaian dan Fokus Pemenuhan Gizi
Skema bundling ini bukan sekadar perubahan teknis, melainkan bagian dari upaya menjaga kesinambungan program MBG tanpa mengurangi nilai kecukupan gizi peserta. Penyesuaian tersebut dimaksudkan agar penerima manfaat tetap mendapatkan asupan gizi yang diperlukan meskipun mekanisme pendistribusian dan waktu konsumsinya berbeda.
Program MBG sendiri merupakan inisiatif strategis nasional yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi peserta didik serta kelompok rentan guna mendukung tumbuh kembang, kesehatan, dan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Dalam konteks Ramadan, adaptasi mekanisme dilakukan tanpa mengurangi tujuan utama tersebut.
Penyampaian Mekanisme Baru dan Tanggung Jawab Pelaksana
Sekretaris Daerah Kota Lhokseumawe, A. Haris, menyatakan penyesuaian menu dan mekanisme ini dilakukan menyusul keraguan sebagian masyarakat terkait sistem pendistribusian MBG pada siang hari ketika sebagian besar masyarakat menjalankan ibadah puasa. Agar program tidak mengganggu ibadah, skema bundling serta pilihan menu kering dipandang sebagai solusi yang tepat dan responsif.
Dalam hal ini, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) juga diimbau untuk mengatur pola pendistribusian bersama sekolah dan posyandu. Jika ada pihak yang keberatan menerima MBG di masa Ramadan, SPPG diminta mencatatnya secara resmi sebagai bahan laporan kepada Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai penyelenggara pusat program ini.
Dukungan dan Tantangan Pelaksanaan MBG di Masa Ramadan
Pelaksanaan MBG di Lhokseumawe tetap mendapat dukungan dari berbagai pihak karena program ini dinilai mampu memberikan manfaat langsung untuk pemenuhan gizi peserta didik. Dengan pendekatan bundling di masa Ramadan, penyelenggara berharap ketepatan dan kecukupan asupan gizi tetap terjaga tanpa mengganggu pelaksanaan ibadah puasa umat Muslim.
Namun, perubahan mekanisme ini juga memerlukan koordinasi yang baik antara pemerintah daerah, sekolah, posyandu, dan BGN untuk memastikan penerima manfaat menerima paket yang tepat waktu dan sesuai dengan standar gizi yang telah ditetapkan. Ketersediaan makanan yang tahan lama serta kualitas penyimpanan juga menjadi faktor penting agar paket yang dibagikan tetap layak konsumsi.
Secara keseluruhan, penyelenggaraan MBG di Lhokseumawe selama Ramadan menunjukkan fleksibilitas pelaksanaan program sosial nasional yang menyesuaikan konteks budaya dan jadwal ibadah masyarakat setempat. Hal ini diharapkan dapat menjadi model bagi daerah lain agar mekanisme program tetap relevan dan efektif dalam berbagai kondisi, termasuk masa ibadah besar seperti Ramadan.