JAKARTA - PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) kembali melanjutkan strategi pendanaan jangka panjangnya pada tahun ini melalui penerbitan obligasi berkelanjutan. Langkah korporasi ini merupakan bagian dari upaya perseroan untuk memperkuat struktur permodalan dan mendukung pengembangan sejumlah proyek infrastruktur jalan tol strategis di Indonesia.
Strategi Obligasi Berkelanjutan untuk Mendukung Pertumbuhan
Penerbitan surat utang ini merupakan Obligasi Berkelanjutan III Jasa Marga Tahap III Tahun 2026 dengan jumlah pokok yang ditawarkan sebesar Rp2,06 triliun, yang merupakan bagian dari total target dana Rp4 triliun dalam skema obligasi berkelanjutan yang sama. Jasa Marga mengeluarkan obligasi ini tanpa warkat, dengan sertifikat jumbo yang dicatat atas nama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai bukti utang bagi investor.
Empat seri obligasi ditawarkan dalam penawaran ini dengan struktur bunga dan tenor yang berbeda-beda. Seri A mencapai Rp281,82 miliar dengan tingkat bunga 5,70 persen per tahun dan jangka waktu tiga tahun sejak tanggal emisi; Seri B sebesar Rp718,17 miliar dengan bunga 6,15 persen per tahun dan tenor lima tahun; Seri C sebesar Rp300 miliar dengan bunga 6,50 persen per tahun dan durasi tujuh tahun; serta Seri D sebesar Rp767,65 miliar dengan bunga 6,75 persen per tahun dan jangka waktu 10 tahun.
Pembayaran bunga obligasi akan dilakukan setiap tiga bulan, dimulai dengan pembayaran pertama pada 20 Mei 2026. Pelunasan pokok obligasi dilakukan secara penuh (bullet payment) pada masing-masing tanggal jatuh tempo untuk tiap seri, yakni pada 20 Februari 2029 untuk Seri A, 20 Februari 2031 untuk Seri B, 20 Februari 2033 untuk Seri C, dan 20 Februari 2036 untuk Seri D.
Arah Pemanfaatan Dana Hasil Obligasi
Manajemen Jasa Marga menyatakan bahwa hasil penawaran obligasi ini akan difokuskan sepenuhnya pada penguatan modal kerja untuk sejumlah entitas afiliasi yang mengelola jalan tol strategis di bawah naungan perseroan. Sebanyak Rp1,3 triliun dari dana tersebut akan digunakan untuk penyetoran modal kepada PT Jasamarga Kapel Selatan (JJS). Penyertaan modal ini diwujudkan melalui peningkatan kepemilikan sebanyak 1,3 juta lembar saham nominal sesuai nilai investasi, yang akan memperkuat permodalan JJS dalam menjalankan kegiatan usaha pengelolaan Jalan Tol Jakarta–Cikampek II Selatan (ruas Jatiasih–Cipularang–Sadang).
Sisa dana yang diperoleh kemudian akan dialokasikan untuk penyetoran modal kepada PT Jasamarga Jogja Bawen (JJB), yang fokus pada pengembangan dan pengelolaan Jalan Tol Yogyakarta–Bawen. Perseroan akan meningkatkan modal JJB dengan penambahan kepemilikan sebanyak-banyaknya hingga 767.650 lembar saham sesuai nilai nominal yang ditetapkan.
Riwayat dan Konsistensi Penerbitan Obligasi
Langkah ini mencerminkan konsistensi Jasa Marga dalam memanfaatkan instrumen pasar modal sebagai bagian dari strategi pendanaan jangka panjang yang berkelanjutan. Sebelumnya, perseroan telah menerbitkan Obligasi Berkelanjutan III Tahap I pada tahun 2024 dengan jumlah pokok sebesar Rp932,35 miliar. Tahap II dilaksanakan pada tahun 2025 dengan nilai pokok mencapai Rp1 triliun, menunjukkan pola peningkatan volume pendanaan melalui obligasi berkelanjutan dari tahun ke tahun.
Strategi pendanaan melalui obligasi berkelanjutan ini sekaligus mencerminkan upaya Jasa Marga untuk mengoptimalkan struktur modal tanpa membebani cadangan kas internal perusahaan secara signifikan. Dengan menerbitkan surat utang, perseroan dapat menjaga likuiditas sambil mendukung ekspansi proyek jalan tol di berbagai wilayah di Indonesia, sejalan dengan target pemerintah dalam meningkatkan konektivitas infrastruktur nasional.
Implikasi di Pasar Modal dan Infrastruktur
Penerbitan obligasi ini juga memiliki implikasi di pasar modal Indonesia, karena menjadi bagian dari aktivitas emisi surat utang korporasi yang terus meningkat pada tahun 2026. Di tengah dinamika pasar modal domestik, di mana surat utang baru terus muncul sebagai pilihan instrumen investasi, langkah Jasa Marga menunjukkan kepercayaan emiten besar terhadap peluang pembiayaan melalui pasar modal.
Selain itu, bagi sektor infrastruktur, pendanaan yang kuat menjadi fundamental untuk memastikan kelancaran pembangunan dan pengelolaan jalan tol, yang memegang peranan penting dalam mobilitas logistik serta mobilitas masyarakat. Penerbitan obligasi ini berpotensi memperkuat basis modal perusahaan dalam jangka panjang, mendukung operasional pembangunan infrastruktur, dan memberikan sinyal positif kepada pelaku pasar modal terkait persepsi risiko kredit dari Jasa Marga.
Prospek dan Langkah Selanjutnya
Dalam jangka menengah dan panjang, Jasa Marga diperkirakan akan terus memanfaatkan obligasi berkelanjutan sebagai sumber pembiayaan strategis, seiring kebutuhan modal untuk mengembangkan jaringan jalan tol yang lebih luas. Hal ini selaras dengan misi perseroan untuk meningkatkan kontribusi terhadap konektivitas nasional sekaligus menciptakan nilai tambah bagi pemangku kepentingan dan investor di pasar modal.
Dengan langkah ini, Jasa Marga tidak hanya memperkuat posisi struktur permodalannya tetapi juga menunjukkan komitmen jangka panjang terhadap pengembangan infrastruktur tol di Indonesia melalui pendekatan pembiayaan yang cermat dan terukur.