Bursa

Bursa Asia Menguat Ditopang Harapan Laba Perusahaan, Dampak Tarif Trump

Bursa Asia Menguat Ditopang Harapan Laba Perusahaan, Dampak Tarif Trump
Bursa Asia Menguat Ditopang Harapan Laba Perusahaan, Dampak Tarif Trump

JAKARTA - Pada Selasa, 27 Januari 2026, bursa saham Asia menunjukkan pergerakan positif yang dipicu oleh harapan investor terhadap kinerja laba perusahaan-perusahaan raksasa asal Amerika Serikat (AS).

Namun, meskipun ada optimisme terkait potensi keuntungan sektor teknologi, langkah Presiden AS Donald Trump yang menaikkan tarif impor terhadap Korea Selatan memberikan tekanan pada pasar. 

Kenaikan tarif ini terkait dengan tuduhan Trump bahwa parlemen Korea Selatan gagal memenuhi komitmennya dalam perjanjian dagang dengan Washington, yang berdampak pada beberapa produk impor, termasuk otomotif dan farmasi. Hal ini tentu saja memberi dampak negatif pada sentimen perdagangan, meskipun bursa saham Asia masih mampu mempertahankan momentum penguatan.

Trump Naikkan Tarif Impor, Dampaknya Terasa di Pasar

Pada Senin malam, Presiden Trump mengumumkan kebijakan baru yang menaikkan tarif impor terhadap sejumlah produk Korea Selatan menjadi 25%. Langkah ini mencakup berbagai barang, termasuk otomotif, kayu, dan produk farmasi. 

Meskipun demikian, pengumuman tersebut tidak langsung membebani pasar saham secara signifikan. Sebaliknya, pasar saham global cenderung lebih fokus pada laporan kinerja laba dari perusahaan-perusahaan teknologi besar di AS, yang diharapkan akan memberikan gambaran positif tentang prospek ekonomi AS.

Kenaikan tarif ini juga mendorong harga emas dan perak menguat. Logam mulia tersebut biasanya dianggap sebagai instrumen aman yang dapat mengimbangi ketidakpastian ekonomi global. 

Seiring dengan itu, harga emas melesat 1% menuju level US$5.066 per ons troi, mendekati rekor tertinggi sepanjang masa di US$5.110. Hal ini terjadi seiring dengan ketidakpastian tinggi yang mendorong investor untuk beralih ke aset yang lebih aman.

Pasar Saham Tenang, Fokus Tertuju pada Laporan Keuangan

Di tengah ketegangan dagang AS-Korea Selatan, pasar saham Asia masih mampu mempertahankan kekuatannya. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik 0,4%, sementara indeks KOSPI Korea Selatan bahkan berbalik menguat sebesar 0,8% setelah sempat melemah di awal perdagangan. Hal ini menandakan bahwa investor di kawasan Asia tidak terlalu terpengaruh oleh eskalasi tarif AS terhadap Korea Selatan.

Di sisi lain, saham-saham teknologi AS, yang termasuk dalam kelompok “Magnificent Seven” seperti Microsoft, Apple, dan Tesla, semakin menjadi sorotan. Investor semakin bersiap untuk menghadapi laporan keuangan dari perusahaan-perusahaan tersebut, yang diharapkan dapat mendukung tren positif yang terjadi pada indeks Nasdaq dan S&P 500.

Namun, meskipun pasar saham menunjukkan optimisme, gejolak harga emas dan ketegangan tarif impor menjadi pengingat bagi investor untuk berhati-hati. 

Dalam beberapa kasus, ketidakpastian global justru mendorong investor untuk memilih instrumen dengan risiko lebih rendah, seperti emas, untuk melindungi nilai kekayaan mereka.

Emas dan Perak Naik, Mencerminkan Ketidakpastian Global

Ketidakpastian yang meningkat, dipadukan dengan pelemahan dolar AS, turut mendorong reli harga emas. Menurut Christopher Louney, ahli strategi komoditas di RBC Capital Markets, ketidakpastian global dan pelemahan dolar menjadi faktor utama di balik lonjakan harga emas. Emas sudah lama dikenal sebagai aset safe haven yang cenderung menguat ketika kondisi ekonomi dan politik global tidak menentu.

Berdasarkan pola reli besar yang terjadi sebelumnya, Louney memprediksi harga emas bisa terus melanjutkan tren kenaikan ini, bahkan berpotensi mencapai level US$7.100 per ons pada akhir tahun jika melihat kinerja sepanjang 2025. Ini menjadikan emas sebagai pilihan menarik bagi investor yang ingin menghindari risiko fluktuasi pasar saham atau ketidakpastian ekonomi yang lebih luas.

Di sisi lain, harga perak turut mencatatkan lonjakan signifikan, naik 6,4% menuju US$110,60 per ons troi, mendekati rekor tertinggi US$117,70 yang tercapai pada Senin, 26  Januari 2026. Kenaikan harga perak juga mencerminkan sentimen yang sama dengan emas, yaitu perlindungan terhadap potensi gejolak ekonomi yang dipicu oleh kebijakan tarif dan ketegangan global lainnya.

Dolar AS Tertekan, Penguatan Yen Jepang Menambah Ketegangan

Nilai tukar dolar AS juga kembali berada di bawah tekanan pada awal tahun 2026, terimbas oleh spekulasi bahwa pemerintah AS mungkin menginginkan mata uang yang lebih lemah. 

Pelemahan dolar AS kali ini semakin dipicu oleh penguatan tajam yen Jepang, yang telah menguat lebih dari 2,6% dalam dua sesi terakhir. Kenaikan yen ini membuat mata uang Jepang kembali menjadi perhatian utama, terutama terkait dengan sektor ekspor.

Pada Selasa, 27 Januari 2026, dolar stabil di level 154,30 yen setelah sebelumnya anjlok tajam. Pergerakan ini juga dipengaruhi oleh spekulasi bahwa AS dan Jepang mungkin akan melakukan intervensi bersama untuk menahan pelemahan yen lebih lanjut. 

Hal ini menunjukkan adanya ketegangan antara kebijakan mata uang yang diterapkan oleh negara-negara besar dan dampaknya terhadap stabilitas pasar global.

Fokus Pasar Tertuju pada Kebijakan The Fed dan Pemerintahan Trump

Pasar juga menantikan keputusan penting dari Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan akan mengumumkan kebijakan moneternya pada Rabu (28/1/2026). Ekspektasi pasar adalah bahwa suku bunga tetap dipertahankan pada level yang ada, meskipun ketidakpastian ekonomi global memberikan ruang untuk perubahan kebijakan di masa depan.

Selain itu, perhatian pasar juga tertuju pada penyelidikan pidana yang sedang berlangsung terhadap Ketua The Fed, Jerome Powell. Penyidikan ini dipicu oleh ketegangan politik di Washington, dan dapat mempengaruhi pengambilan keputusan The Fed terkait kebijakan moneter. 

Spekulasi terkait penggantian Powell dengan Rick Rieder, kepala investasi obligasi BlackRock yang lebih mendukung suku bunga rendah, juga semakin memanaskan diskusi seputar masa depan kebijakan moneter AS.

Harga Minyak Dunia Stabil

Meskipun ada banyak ketidakpastian yang mengguncang pasar keuangan global, harga minyak dunia bergerak relatif stabil. Minyak mentah Brent turun tipis 0,1% menjadi US$60,58 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 0,2% ke US$65,48 per barel. 

Stabilitas harga minyak ini mencerminkan keseimbangan antara pasokan global dan permintaan yang tetap cukup kuat, meskipun ada dampak dari ketegangan perdagangan dan kebijakan ekonomi yang berubah-ubah.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index