BRIN

BRIN dan OceanX Temukan 14 Spesies Megafauna Selama Ekspedisi Laut Dalam

BRIN dan OceanX Temukan 14 Spesies Megafauna Selama Ekspedisi Laut Dalam
BRIN dan OceanX Temukan 14 Spesies Megafauna Selama Ekspedisi Laut Dalam

JAKARTA - Pada Januari 2026, ekspedisi laut dalam yang digagas oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan OceanX berhasil mencapai keberhasilan besar dalam misi penelitian laut dalam mereka. 

Misi yang diberi nama "OCEANX-BRIN Collaborative Deep-sea Research and Capacity Building Program 2025 - Mission Leg 2" . Fokus utama misi ini adalah pada penelitian biodiversitas laut, oseanografi, pengamatan laut, serta penelitian terhadap fish aggregating device (FAD), yang lebih dikenal dengan istilah rumpon.

Misi kedua dari rangkaian ini memperlihatkan pentingnya peran teknologi dan penelitian dalam menjaga keberlanjutan eksplorasi laut, serta memperkaya pengetahuan ilmiah mengenai kehidupan laut di Indonesia, khususnya di perairan utara Sulawesi Utara.

Fokus Penelitian: Biodiversitas Laut dan Teknologi Modern

Menurut Nugroho Dwi Hananto, Direktur Pengelolaan Armada Kapal Riset BRIN, eksplorasi ini sangat penting untuk memajukan kemandirian riset dan eksplorasi laut Indonesia. 

"Upaya mencapai kemandirian eksplorasi laut nasional memerlukan penguatan ekosistem kapal riset secara berkelanjutan, mulai dari armada, sumber daya manusia, hingga pendanaan," ungkap Nugroho dalam rilis pers yang diterima pada 27 Januari 2026.

Pada akhir misi Leg 2, tim peneliti BRIN dan OceanX berhasil mengidentifikasi dan mendokumentasikan berbagai temuan penting. ROV Program Lead OceanX, Andrew Craig, melaporkan bahwa selama misi, tim berhasil menemukan 14 spesies megafauna yang terdiri dari 10 spesies mamalia laut, dua spesies hiu, dan dua spesies penyu.

Penemuan ini menunjukkan betapa kayanya biodiversitas laut yang ada di perairan Indonesia, yang memiliki peran sangat penting dalam menjaga ekosistem laut secara global.

Penemuan Megafauna Laut Melalui Pengamatan Visual dan Teknologi Canggih

Dalam penelitiannya, Sekar Mira, peneliti mamalia laut Pusat Riset Sistem Biota BRIN, mengungkapkan bahwa pengamatan udara dengan helikopter kapal sangat membantu dalam mendeteksi mamalia laut, termasuk paus sperma dan paus berparuh. 

Menariknya, dalam misi ini, tim peneliti menemukan Indopacetus pacificus atau paus paruh Longman, yang jika terkonfirmasi, akan menjadi penemuan baru dalam daftar biodiversitas di perairan Indonesia.

Selain pengamatan visual, tim penelitian juga memanfaatkan teknologi canggih yang dikenal dengan sebutan environmental DNA (eDNA) metabarcoding. Teknologi ini memungkinkan tim untuk mendeteksi jejak genetik dari megafauna laut yang terkandung dalam air laut tanpa perlu kontak langsung dengan hewan tersebut. 

"Kita, tuh, kayak lagi berburu paus tanpa membunuh paus, whaling tanpa harpoon. Harapannya, kita bisa mempelajari distribusinya, tidak hanya horizontal tapi juga secara vertikal," jelas Andhika Prima Prasetyo, peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN.

Teknologi ini tidak hanya membantu memperkaya data penelitian, tetapi juga memberikan cara yang lebih ramah lingkungan untuk mempelajari kehidupan laut tanpa mengganggu ekosistem alami mereka.

Ini menunjukkan bahwa riset yang memanfaatkan teknologi canggih tidak hanya berpotensi memberikan data ilmiah, tetapi juga dapat mengurangi dampak negatif terhadap ekosistem laut yang rentan.

Peran Kapal Selam Berawak dalam Ekspedisi Laut Dalam

Ekspedisi laut dalam ini juga didukung oleh dua unit kapal selam berawak, yaitu Nadir dan Neptune, yang memiliki peran penting dalam mengumpulkan data visual dan ilmiah dari dasar laut. Peneliti Indo Ocean Foundation, Ilham, menjelaskan bahwa kapal selam Nadir difokuskan pada dokumentasi visual dan media, sementara Neptune digunakan untuk pengambilan sampel air dan biota laut.

Kapal selam Neptune dilengkapi dengan berbagai perangkat canggih, termasuk Niskin bottle untuk pengambilan sampel air laut, lengan robotik untuk mengambil biota laut, serta bio box untuk menjaga spesimen yang diambil selama analisis di laboratorium kapal.

 Inovasi-inovasi semacam ini memainkan peran krusial dalam mengungkap berbagai aspek dari ekosistem laut yang belum banyak dipelajari. Dengan peralatan canggih ini, ekspedisi dapat menelusuri kehidupan laut yang lebih dalam dan lebih kompleks.

Pentingnya Data Biodiversitas dalam Kebijakan Konservasi Laut

Pipit Pitriana, Lead Scientist ekspedisi sekaligus Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, menjelaskan bahwa ekspedisi ini sangat penting untuk memperkaya basis data biodiversitas perairan Sulawesi Utara. 

Data tersebut nantinya akan menjadi dasar rekomendasi kebijakan konservasi yang lebih baik, terutama untuk melindungi spesies-spesies yang teridentifikasi selama ekspedisi. Data ini tidak hanya berguna bagi para ilmuwan, tetapi juga bagi pemerintah dan lembaga yang bertugas mengelola sumber daya alam di Indonesia.

Wakil Kepala BRIN, Amarulla Oktavian, juga memberikan apresiasi atas pelaksanaan ekspedisi ini dan berharap bahwa fasilitas seperti OceanX dapat menjadi referensi dalam pengembangan kapal riset BRIN di masa depan. 

"Saya berharap hasil penelitian ini terdokumentasi dengan baik dan semua sampel disimpan di repositori ilmiah nasional sesuai aturan. Kita akan melanjutkan penelitian ini menggunakan kapal penelitian kita sendiri dengan peralatan standar yang tidak boleh kalah canggih," ujar Amarulla.

Harapan untuk Pengembangan Riset Laut Indonesia di Masa Depan

Selain memberikan kontribusi besar terhadap pengetahuan ilmiah tentang biodiversitas laut, ekspedisi ini juga memperlihatkan pentingnya pengembangan fasilitas dan teknologi riset laut dalam negeri. 

BRIN berencana untuk melanjutkan penelitian ini dengan armada kapal riset yang dimiliki Indonesia, serta melengkapi peralatan riset dengan teknologi-teknologi yang lebih maju. 

Dalam jangka panjang, harapannya, Indonesia akan semakin mandiri dalam melakukan eksplorasi dan penelitian laut, dengan kemampuan untuk mengidentifikasi serta melestarikan spesies laut yang ada di wilayah perairan Indonesia.

Lebih dari itu, ekspedisi ini mengingatkan kita semua akan pentingnya menjaga kelestarian laut dan biodiversitasnya, yang tak hanya berdampak pada ekosistem laut tetapi juga pada kehidupan manusia secara keseluruhan. 

Keanekaragaman hayati yang ada di laut adalah aset yang sangat bernilai, dan dengan teknologi serta kolaborasi global yang terus berkembang, kita berharap dapat menjaga serta melestarikannya untuk generasi mendatang.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index