PERBANKAN

Strategi Perbankan Menurunkan Suku Bunga Secara Bertahap dan Selektif

Strategi Perbankan Menurunkan Suku Bunga Secara Bertahap dan Selektif
Strategi Perbankan Menurunkan Suku Bunga Secara Bertahap dan Selektif

JAKARTA - Memasuki awal 2026, pelonggaran moneter Bank Indonesia (BI) memberi sinyal positif bagi dunia perbankan untuk menurunkan suku bunga kredit. 

Namun, alih-alih melakukan penurunan agresif, bank memilih langkah hati-hati dengan strategi gradual decrease dan selektif, menyesuaikan kondisi pasar dan risiko yang ada.

Advisor Banking & Finance Development Center, Moch Amin Nurdin, menyampaikan bahwa kebijakan pelonggaran BI, termasuk penurunan BI Rate, memperkuat jalur transmisi suku bunga dan membuka peluang bagi perbankan untuk menyesuaikan harga kredit.

 “Ke depan masih mungkin terbuka penurunan suku bunga [bank], tapi saya rasa akan gradually decrease dan sangat selektif,” ujar Amin.

Faktor-Faktor yang Menentukan Penurunan Suku Bunga

Amin menekankan bahwa penurunan suku bunga perbankan bukan hanya soal pelonggaran moneter. Bank mempertimbangkan berbagai faktor yang dapat memengaruhi stabilitas sistem keuangan. Beberapa di antaranya:

Nilai Tukar Rupiah – Tekanan terhadap mata uang domestik menjadi pertimbangan utama agar tidak mengganggu likuiditas perbankan.

Likuiditas Perbankan – Bank harus menjaga keseimbangan antara mendorong kredit dan memastikan kecukupan dana di sistem perbankan.

Ketidakpastian Ekonomi Global – Dinamika ekonomi internasional yang masih rentan berpotensi menimbulkan risiko lanjutan bagi perekonomian nasional.

Dengan mempertimbangkan faktor-faktor ini, Amin menilai penurunan suku bunga kredit akan lebih difokuskan pada segmen berisiko rendah, sektor prioritas, atau debitur dengan kualitas kredit yang baik. Bank menghindari penurunan suku bunga secara menyeluruh agar tetap menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas sistem keuangan.

“Artinya kebijakan suku bunga bank ke depan masih akomodatif tapi berhati-hati. Ini karena menjaga keseimbangan tadi, antara pertumbuhan dan stabilitas sistem keuangan,” pungkas Amin.

Proyeksi Akomodatif Perbankan 2026

Meskipun langkah perbankan bersifat selektif, arah suku bunga diperkirakan tetap akomodatif. Strategi ini sejalan dengan tujuan mendorong pertumbuhan kredit tanpa mengorbankan ketahanan sektor keuangan.

Data BI menunjukkan tren penurunan suku bunga pada akhir 2025. Suku bunga deposito tenor 1 bulan tercatat turun signifikan, 56 basis poin (bps) secara tahunan, dari 4,81% menjadi 4,25%. Sementara itu, suku bunga kredit juga melunak 39 bps, dari 9,20% menjadi 8,81% pada Desember 2025.

Dengan pelonggaran ini, bank memiliki ruang untuk menyesuaikan suku bunga kredit, tetapi tetap berhati-hati agar tidak menciptakan risiko likuiditas maupun tekanan nilai tukar. Strategi gradual decrease memastikan penyesuaian bunga lebih terkontrol dan tepat sasaran.

Fokus Penurunan Kredit pada Segmen Strategis

Menurut Amin, penurunan suku bunga bank ke depan kemungkinan besar difokuskan pada:

Debitur dengan kualitas kredit baik.

Sektor prioritas ekonomi yang mendukung pertumbuhan nasional.

Segmen berisiko rendah, seperti kredit mikro dan usaha kecil menengah (UMKM) yang layak mendapatkan akses pembiayaan murah.

Langkah selektif ini diharapkan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kredit dan risiko sistemik. Bank menilai penurunan suku bunga secara masif bisa mengganggu stabilitas keuangan, sehingga kebijakan ini dijalankan dengan penuh kehati-hatian.

Meski pelonggaran moneter BI membuka peluang penurunan suku bunga kredit, perbankan tetap berhati-hati. Strategi yang dijalankan bersifat akomodatif, selektif, dan gradual, dengan fokus pada debitur berkualitas dan sektor prioritas.

Langkah ini bertujuan agar pertumbuhan ekonomi tetap didorong, namun stabilitas sistem keuangan nasional tetap terjaga. 

Tren suku bunga akhir 2025 menunjukkan bahwa bank telah mulai menurunkan bunga deposito dan kredit secara signifikan, menjadi indikasi positif bagi pasar, namun tetap dijalankan secara terukur.

Ke depan, kebijakan perbankan akan menekankan eksekusi yang berhati-hati, fokus pada segmen aman, dan tetap memperhatikan faktor eksternal, termasuk ketidakpastian global dan tekanan nilai tukar, agar pertumbuhan kredit sejalan dengan stabilitas ekonomi nasional.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index