BURSA

Bursa Asia Menguat, Pelaku Pasar Fokus Pada Kebijakan Bank of Japan

Bursa Asia Menguat, Pelaku Pasar Fokus Pada Kebijakan Bank of Japan
Bursa Asia Menguat, Pelaku Pasar Fokus Pada Kebijakan Bank of Japan

JAKARTA - Pada perdagangan pagi hari Jumat, 23 Januari 2026, bursa saham Asia-Pasifik mayoritas mengalami penguatan, mengikuti tren positif yang terjadi di Wall Street. 

Penguatan ini terjadi seiring dengan meredanya ketegangan geopolitik, yang sempat mengkhawatirkan pelaku pasar pada awal pekan. Selain itu, pasar juga bersikap wait-and-see jelang keputusan kebijakan moneter Bank of Japan (BOJ), yang diharapkan akan menjadi salah satu faktor kunci pergerakan pasar dalam waktu dekat.

Pergerakan Bursa Asia-Pasifik

Indeks saham Jepang, Nikkei 225, tercatat menguat tipis 0,09% pada pagi hari ini. Meskipun penguatannya terbilang kecil, namun masih menggambarkan sentimen positif yang melanda pasar saham Jepang. 

Sementara itu, indeks Topix yang lebih luas mengalami kenaikan yang lebih signifikan, yaitu sebesar 0,27%. Keputusan Bank of Japan (BOJ) untuk menahan suku bunga pada level 0,75% masih menjadi fokus utama pasar, karena kebijakan moneter yang diambil oleh BOJ sangat berpengaruh terhadap nilai tukar yen dan kondisi ekonomi Jepang secara keseluruhan.

Di Korea Selatan, bursa saham juga menunjukkan penguatan yang cukup kuat. Indeks Kospi, yang mengukur kinerja saham-saham besar di Korea Selatan, naik sebesar 0,7%. Indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq juga tercatat menguat sebesar 0,74%. 

Sentimen positif ini sebagian besar didorong oleh kepercayaan pasar terhadap pemulihan ekonomi Korea Selatan, serta harapan bahwa Bank of Korea (BOK) akan terus mendukung ekonomi domestik dengan kebijakan moneter yang akomodatif.

Proyeksi Kenaikan Suku Bunga BOJ

Salah satu faktor utama yang sedang dipantau oleh pelaku pasar di kawasan Asia adalah keputusan Bank of Japan mengenai kebijakan suku bunga. Berdasarkan jajak pendapat yang dilakukan oleh Reuters, sebagian besar ekonom memprediksi bahwa BOJ akan menahan suku bunga acuannya di level 0,75%. 

Namun, ada juga pandangan yang mengharapkan BOJ untuk menaikkan suku bunga pada periode mendatang, mengingat inflasi di Jepang yang mulai melambat.

HSBC, dalam analisanya, menyebutkan bahwa kenaikan suku bunga BOJ yang berikutnya bisa terjadi pada Juli 2026, meskipun ada kemungkinan bahwa keputusan tersebut bisa lebih cepat jika pelemahan yen terus berlanjut. 

Proyeksi mereka juga menunjukkan bahwa BOJ bisa mengambil langkah lebih agresif, dengan kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan sebesar 25 basis poin pada paruh kedua tahun 2026.

Namun, ada juga prediksi bahwa BOJ bisa saja menunggu hingga bulan April 2026 untuk memutuskan langkah kebijakan moneter mereka. 

Waktu ini dianggap krusial karena BOJ akan merilis laporan Outlook kuartalan mereka, serta perundingan upah tahunan yang akan menentukan arah kebijakan upah di Jepang. Semua faktor ini tentunya akan mempengaruhi keputusan suku bunga yang akan diambil oleh BOJ.

Inflasi Jepang dan Dampaknya Terhadap Kebijakan BOJ

Pada bulan Desember 2025, inflasi utama di Jepang tercatat melambat secara tajam menjadi 2,1% secara tahunan, terendah sejak Maret 2022. Sementara itu, inflasi inti, yang tidak memperhitungkan harga makanan dan energi, tercatat sebesar 2,4% year-on-year, sesuai dengan perkiraan analis. 

Pelambatan inflasi ini memberikan sinyal bahwa ekonomi Jepang mulai mengalami penurunan tekanan inflasi, yang pada gilirannya bisa memengaruhi keputusan BOJ dalam menetapkan kebijakan suku bunga mereka.

Inflasi yang lebih rendah ini juga memberikan ruang bagi BOJ untuk mempertimbangkan langkah-langkah yang lebih dovish, seperti menahan suku bunga lebih lama. Hal ini tentunya akan memberikan dampak terhadap nilai tukar yen, yang kini berada dalam posisi yang cukup lemah. 

Namun, BOJ tetap harus mempertimbangkan apakah suku bunga rendah dapat membantu memulihkan ekonomi Jepang atau justru berisiko menambah ketergantungan pada kebijakan moneter yang terlalu longgar.

Sentimen Global dan Dampaknya Terhadap Pasar Asia

Di luar Jepang, pasar Asia-Pasifik juga mencermati pergerakan saham produsen chip regional, yang terpengaruh oleh penurunan saham Intel di bursa Amerika Serikat. Saham Intel anjlok hingga 13% dalam perdagangan setelah jam bursa AS, meskipun perusahaan tersebut mencatatkan laba kuartal IV yang melampaui ekspektasi pasar.

Hal ini terjadi setelah Intel memberikan panduan yang lebih lemah untuk kuartal berikutnya, yang menimbulkan kekhawatiran tentang prospek masa depan perusahaan dan sektor teknologi secara keseluruhan.

Namun, meskipun ada kekhawatiran di sektor teknologi, mayoritas pasar Asia masih menunjukkan penguatan. Di Hong Kong, kontrak berjangka indeks Hang Seng berada di level 26.917, lebih tinggi dibandingkan dengan penutupan terakhir di level 26.629,96. 

Di Australia, indeks S&P/ASX 200 bergerak mendatar pada awal perdagangan, mencerminkan sikap hati-hati investor yang masih menunggu arah kebijakan moneter di negara-negara besar.

Pengaruh Keputusan Bank of Japan Terhadap Pasar Asia

Keputusan Bank of Japan (BOJ) dalam menetapkan kebijakan suku bunga dan langkah-langkah moneter lainnya akan sangat memengaruhi pergerakan pasar di kawasan Asia. 

Jika BOJ memutuskan untuk menaikkan suku bunga atau mengambil langkah-langkah lebih ketat, hal ini dapat memberikan dorongan terhadap yen dan mempengaruhi nilai tukar mata uang di seluruh kawasan Asia.

Namun, jika BOJ memutuskan untuk mempertahankan suku bunga rendah atau mengambil langkah-langkah yang lebih dovish, hal ini bisa memperburuk kelemahan yen dan menambah ketidakpastian di pasar Asia. 

Oleh karena itu, pelaku pasar di seluruh Asia akan terus memantau keputusan BOJ dengan seksama, mengingat dampaknya yang besar terhadap perekonomian global dan nilai tukar mata uang di kawasan Asia.

Wall Street dan Sentimen Geopolitik

Sementara itu, di Amerika Serikat, pasar saham Wall Street kembali menguat setelah ketegangan terkait Greenland mereda. 

Presiden AS Donald Trump sempat mengumumkan rencana untuk mengenakan tarif baru terhadap negara-negara Eropa, yang sempat menambah ketegangan dalam hubungan perdagangan internasional. Namun, pengumuman tersebut mereda, dan sentimen pasar kembali mengarah pada optimisme.

Indeks Dow Jones Industrial Average tercatat naik 306,78 poin atau 0,63%, menutup perdagangan di level 49.384,01. Indeks S&P 500 menguat 0,55% dan ditutup di 6.913,35, sementara Nasdaq Composite naik 0,91% ke level 23.436,02. 

Penguatan Wall Street didorong oleh kenaikan saham-saham teknologi besar seperti Nvidia, Microsoft, dan Meta Platforms, yang melaporkan kinerja yang lebih baik dari ekspektasi pasar.

Pada hari Jumat ini, 23 Januari 2026, pasar Asia-Pasifik bergerak mayoritas menguat, didorong oleh optimisme yang kembali muncul setelah meredanya ketegangan geopolitik. 

Namun, perhatian pelaku pasar masih tertuju pada keputusan Bank of Japan mengenai kebijakan moneter, yang diperkirakan akan memiliki dampak signifikan terhadap pasar Jepang dan kawasan Asia secara keseluruhan. 

Dengan adanya proyeksi kenaikan suku bunga BOJ, serta perkembangan inflasi di Jepang, pasar akan terus mencermati langkah-langkah kebijakan yang akan diambil oleh bank sentral Jepang dalam waktu dekat.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index