FAST Food Indonesia

FAST Food Indonesia Targetkan Pendapatan Rp 4,8 Triliun Tahun 2025

FAST Food Indonesia Targetkan Pendapatan Rp 4,8 Triliun Tahun 2025
FAST Food Indonesia Targetkan Pendapatan Rp 4,8 Triliun Tahun 2025

JAKARTA - PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) menatap optimistis kinerja keuangan tahun 2025 dengan target pendapatan Rp 4,8 triliun. 

Target ini mencerminkan kombinasi pertumbuhan jaringan restoran dan strategi efisiensi yang dijalankan perusahaan di tengah tantangan pasar.

Pertumbuhan Jaringan dan Strategi Ekspansi

Direktur VII FAST, Dio May Avico, menyampaikan bahwa target pendapatan tersebut disusun berdasarkan kinerja aktual hingga kuartal III-2025 serta proyeksi hingga akhir tahun. 

“Kami memproyeksikan pendapatan mencapai Rp4,8 triliun pada akhir Desember 2025, dengan ekspektasi rugi berjalan sekitar Rp329 miliar,” ujarnya.

Hingga kini, FAST mengoperasikan 687 gerai KFC dan 8 gerai Taco Bell yang tersebar di seluruh Indonesia, mulai dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, Bali-Nusra, Sulawesi, Maluku, hingga Papua. 

Fokus utama perusahaan saat ini adalah memperkuat jaringan melalui renovasi, relokasi, dan konsolidasi gerai eksisting. Dio menambahkan, “Harapannya hingga akhir 2025 kami bisa membuka 20 gerai KFC baru. Untuk Taco Bell, tahun ini belum ada rencana penambahan gerai.”

Efisiensi Operasional dan Penyesuaian SDM

Seiring dengan ekspansi, FAST juga menjalankan program efisiensi untuk menekan biaya operasional. Jumlah karyawan tercatat turun 9% dibandingkan tahun sebelumnya, termasuk penyesuaian di kantor pusat maupun gerai.

Dio merinci, “Karyawan head office turun dari 1.879 menjadi 1.635 orang, sementara karyawan store bergerak dari 11.227 menjadi 10.430.” Meski demikian, struktur demografi karyawan tetap stabil, dengan mayoritas berada di fungsi operasional, disusul manajer restoran, supervisor, dan unit kantor pusat.

Efisiensi ini menjadi salah satu faktor penting dalam mengurangi kerugian meski perusahaan menghadapi tekanan dari penurunan daya beli, boikot terhadap brand Amerika, serta pergeseran preferensi konsumen ke makanan lebih sehat.

Kinerja Keuangan: Pendapatan dan Tantangan

FAST mencatat peningkatan pendapatan sebesar Rp 608 miliar hingga September 2025, yang sebagian besar berasal dari pengembangan peternakan ayam terpadu oleh anak usaha, PT Jagonya Ayam Indonesia. 

Namun, perusahaan juga mencatat peningkatan utang sebesar Rp 719 miliar, terutama akibat penarikan fasilitas pinjaman untuk proyek peternakan.

“Kerugian sampai September masih tercatat Rp 112 miliar karena sejumlah tekanan eksternal, tetapi sudah jauh lebih baik dari tahun lalu,” jelas Dio. 

Langkah pendanaan melalui PMT–IMTD pada April 2025 serta rencana revaluasi aset kuartal IV diharapkan memperbaiki posisi ekuitas dan memberikan penghasilan komprehensif tambahan sebesar Rp 201 miliar.

Dengan revaluasi aset, Dio menegaskan bahwa total rugi komprehensif tahun ini diproyeksikan hanya minus Rp 28 miliar.

Faktor-Faktor yang Membebani Kinerja

Menurut Dio, terdapat beberapa tantangan utama yang masih membebani kinerja FAST tahun ini, di antaranya:

Penurunan daya beli masyarakat.

Dampak boikot terhadap brand Amerika.

Pergeseran preferensi konsumen ke makanan lebih sehat.

Tantangan digitalisasi yang memengaruhi operasional perusahaan.

Meskipun demikian, FAST berhasil menekan kerugian melalui sejumlah strategi kunci:

Efisiensi biaya operasional dan optimalisasi rantai pasok.

Konsolidasi restoran super center melalui penerapan IAP (Integrated Automation Program).

Pengendalian ketat seluruh biaya operasional.

“Program efisiensi ini akan terus kami jalankan hingga 2026,” kata Dio, menegaskan komitmen perusahaan untuk menjaga kesehatan keuangan dan operasional di tengah tekanan pasar.

Prospek dan Fokus Strategis 2026

FAST menekankan bahwa ekspansi jaringan dan efisiensi operasional menjadi pilar utama dalam mencapai target pendapatan Rp 4,8 triliun. Selain membuka gerai baru, perusahaan juga berfokus pada:

Penguatan rantai pasok ayam terpadu untuk mendukung kinerja restoran.

Peningkatan layanan dan kualitas operasional di gerai eksisting.

Pemanfaatan teknologi digital untuk mempermudah transaksi dan operasional restoran.

Dio menambahkan, strategi ini diharapkan mendorong pertumbuhan pendapatan sekaligus mengurangi tekanan rugi berjalan, memastikan bisnis FAST tetap tangguh menghadapi dinamika pasar.

Target pendapatan Rp 4,8 triliun FAST pada 2025 mencerminkan optimisme perusahaan, didukung:

Ekspansi jaringan gerai KFC.

Program efisiensi SDM dan operasional.

Penguatan anak usaha peternakan ayam terpadu.

Strategi digitalisasi dan konsolidasi restoran super center.

Meskipun menghadapi tantangan dari preferensi konsumen dan tekanan pasar, FAST tetap menekankan bahwa efisiensi biaya, optimalisasi rantai pasok, dan inovasi operasional akan menjadi kunci keberhasilan menuju pertumbuhan berkelanjutan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index