JAKARTA - Seiring meningkatnya popularitas mobil listrik di Indonesia, banyak konsumen yang mempertanyakan daya tahan baterai, komponen terpenting sekaligus termahal dari kendaraan ramah lingkungan ini.
Harga baterai mobil listrik bisa mencapai setengah dari harga kendaraan itu sendiri, sehingga kerusakan atau penggantian menjadi persoalan serius bagi pemilik. Kekhawatiran konsumen biasanya terkait usia pakai baterai dan kemungkinan baterai cepat rusak.
Namun, menurut para pakar, kekhawatiran tersebut sering kali berlebihan. Produsen mobil listrik telah merancang baterai dengan teknologi yang memungkinkan pemakaian jangka panjang, termasuk memberikan garansi yang cukup lama untuk meyakinkan konsumen.
Garansi Panjang Jadi Bukti Keawetan Baterai
Wahyu Tri, Service Advisor Chery Solo, menyebut bahwa garansi baterai mobil listrik cukup panjang, bahkan ada yang berlaku seumur hidup untuk pembeli pertama.
“Ada yang 8 tahun dan seumur hidup untuk pembeli pertama, ini menandakan bahwa usia pakai baterai bisa sangat panjang, tak seperti yang ditakutkan oleh kebanyakan orang,” ujar Wahyu.
Garansi panjang ini menunjukkan bahwa baterai mobil listrik dirancang untuk bertahan lama, dan penggunaan sehari-hari tidak akan langsung menurunkan performa secara signifikan. Hal ini memberi rasa aman bagi konsumen yang baru beralih ke kendaraan listrik.
Pemantauan Kesehatan Baterai
Rasyid, Sales Consultant Chery Solo, menambahkan bahwa penurunan kapasitas baterai dapat dipantau melalui alat khusus di bengkel resmi. “Usia baterai bisa terdeteksi menggunakan alat khusus di bengkel, ketika servis akan diperiksa kesehatan baterai, menurun berapa persen, data di lapangan hasilnya bagus,” ujar Rasyid.
Contohnya, salah satu pemilik Chery J6 yang rutin menggunakan fast charging saat perjalanan luar kota selama satu tahun hanya mengalami penurunan kapasitas baterai sekitar 2 persen.
“Bila pakai wall charger di rumah, pasti bisa lebih awet,” jelas Rasyid. Data ini memperlihatkan bahwa cara pemakaian dan pengisian baterai sangat menentukan umur baterai.
Pengaruh Cara Pengisian terhadap Umur Baterai
Jayan Sentanuhady, Dosen Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM), menjelaskan bahwa kebiasaan pengendara memengaruhi keawetan baterai, khususnya terkait metode pengisian. “Agar awet, konsumen sebaiknya selalu berusaha ngecas dengan ampere kecil, kecuali terpaksa, misal saat di tol atau luar kota,” katanya.
Baterai sangat sensitif terhadap panas, sehingga pengisian cepat atau arus besar dapat menyebabkan peningkatan suhu berlebih yang mempercepat degradasi baterai. Selain itu, setiap baterai memiliki batasan ampere maksimal yang sebaiknya tidak dilampaui agar umur baterai tetap optimal.
Tidak Ada Usia Ideal Berdasarkan Tahun
Meski banyak konsumen bertanya-tanya tentang usia ideal baterai dalam hitungan tahun, para pakar menjelaskan bahwa hal ini tidak relevan. Usia baterai lebih tepat dihitung berdasarkan siklus pengisian.
“Umumnya tak ada prediksi usia ideal baterai berapa tahun, hanya berbasis pada siklus saja yakni sekitar 5.000 kali pengisian. Cara hitungnya setiap ngecas sampai penuh satu siklus,” jelas Jayan.
Artinya, baterai yang sering diisi penuh lebih cepat mencapai batas siklusnya, sedangkan pengisian dengan memperhatikan kapasitas sisa baterai dapat memperpanjang umur pakai.
Strategi Pengisian Baterai yang Tepat
Para pakar menyarankan agar pengendara menunggu kapasitas baterai tersisa 10–20 persen sebelum mengisi ulang, kecuali dalam kondisi darurat. Hal ini bertujuan untuk mengurangi frekuensi pengisian penuh yang mempercepat habisnya siklus baterai.
Pemilihan metode pengisian juga penting. Penggunaan wall charger di rumah dinilai lebih aman dibandingkan fast charging yang berlebihan, karena pengisian lambat mengurangi risiko panas berlebih dan degradasi baterai.
Pemantauan Berkala dan Perawatan
Perawatan berkala dan pemantauan kondisi baterai menjadi kunci agar baterai tetap sehat. Konsumen dianjurkan memanfaatkan fasilitas bengkel resmi untuk memeriksa kapasitas baterai dan mendeteksi penurunan performa.
Pabrikan juga terus mengembangkan teknologi baterai yang lebih efisien, termasuk manajemen termal untuk menjaga suhu tetap stabil. Kombinasi perawatan yang tepat dan teknologi canggih memungkinkan baterai mobil listrik bertahan lebih lama dari perkiraan banyak orang.
Umur Baterai Bergantung Pada Siklus dan Perawatan
Secara keseluruhan, umur pakai baterai mobil listrik bukan hanya soal lama penggunaan dalam tahun, melainkan lebih kepada jumlah siklus pengisian dan kebiasaan pengendara.
Dengan pemahaman karakteristik baterai, penggunaan metode pengisian yang tepat, dan perawatan rutin, mobil listrik dapat tetap andal dan ekonomis dalam jangka panjang.
Kesadaran konsumen untuk mengecas baterai dengan ampere sesuai batas pabrikan, menunggu kapasitas 10–20 persen sebelum mengisi ulang, serta memanfaatkan wall charger di rumah menjadi strategi efektif memperpanjang usia baterai. Garansi panjang dari pabrikan semakin menegaskan keandalan baterai mobil listrik.
Dengan cara ini, konsumen dapat menikmati mobil listrik tanpa khawatir cepat rusak atau membutuhkan penggantian baterai yang mahal. Pemahaman tentang siklus baterai dan pengisian yang bijak menjadi kunci bagi transisi yang sukses ke kendaraan listrik ramah lingkungan.