Viral Diet Tayyibat, Dokter Peringatkan Risiko bagi Pasien

Selasa, 16 Juni 2026 | 06:46:37 WIB
Diet Tayyibat viral [FOTO : NET].

JAKARTA – Diet Tayyibat kini tengah jadi perbincangan hangat di sejumlah negara Timur Tengah karena diklaim mampu menyembuhkan berbagai penyakit kronis melalui pengaturan pola makan. Namun, di saat yang sama, otoritas kesehatan di Arab Saudi serta Mesir justru melayangkan peringatan keras terhadap diet tersebut.

Berdasarkan data dari The National News (5/6/2026) dan Gulf News (8/6/2026), pola makan ini viral di media sosial karena dianggap menawarkan solusi alami memulihkan kesehatan tanpa terlalu bergantung pada obat-obatan. 

Kendati demikian, para pejabat kesehatan memperingatkan bahwa menjalani pola makan tersebut tanpa pengawasan medis dapat memicu risiko serius, utamanya bagi penderita penyakit kronis.

Apa itu diet Tayyibat? Diet Tayyibat atau nizam el tayyibat dikenal sebagai "sistem makanan baik". Pola makan ini dipopulerkan oleh seorang dokter asal Mesir, Diaa El Awady, yang dulunya berpraktik di bidang anestesi dan perawatan intensif sebelum beralih menjadi figur populer di bidang nutrisi terapeutik.

Dalam konsepnya, makanan dibagi menjadi dua kelompok, yakni makanan yang dinilai "baik" (tayyibat) dan makanan yang dinilai "buruk" (khabithat). 

Pendukung diet ini meyakini berbagai penyakit kronis dapat membaik dengan memperbaiki kondisi saluran pencernaan serta menghindari makanan yang dianggap memicu peradangan. Diet ini menganjurkan konsumsi daging sapi dan kambing, kentang, nasi, kurma, pisang, anggur, keju tertentu, serta lemak hewani. Sebaliknya, sejumlah bahan pangan yang umum dianggap sehat justru dibatasi atau dijauhi.

Banyak makanan bergizi justru dibatasi 

Diet Tayyibat melarang atau sangat membatasi konsumsi telur, ayam, susu segar, yoghurt, berbagai jenis ikan dan makanan laut, sayuran hijau, tomat, bawang, serta kacang-kacangan seperti lentil dan kacang merah. Pasta, sebagian besar produk berbahan tepung gandum, serta minuman ringan juga masuk dalam daftar yang tidak dianjurkan.

Pendukung diet ini menilai pembatasan tersebut dapat membantu "menenangkan" sistem pencernaan sehingga tubuh mampu memulihkan dirinya sendiri. Namun, pendekatan tersebut memicu kekhawatiran di kalangan tenaga kesehatan.

Arab Saudi keluarkan peringatan 

Kementerian Kesehatan Arab Saudi mengungkapkan bahwa sejumlah pasien harus dirawat di unit perawatan intensif setelah menghentikan penggunaan insulin dan beralih ke pola makan yang tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat. 

Dalam pernyataannya yang dikutip Gulf News, kementerian menegaskan bahwa tidak ada bukti ilmiah yang cukup untuk mendukung penggunaan diet Tayyibat sebagai pengganti terapi medis yang diresepkan dokter. Pihak kementerian juga mengingatkan bahwa menghentikan atau mengurangi obat diabetes tanpa konsultasi dokter dapat memicu komplikasi serius yang mengancam jiwa.

Dikhawatirkan memicu kekurangan gizi 

Selain risiko akibat penghentian pengobatan, otoritas kesehatan juga menyoroti kemungkinan terjadinya kekurangan zat gizi. Kementerian Kesehatan Arab Saudi menyatakan bahwa menghilangkan kelompok makanan penting tanpa alasan medis yang jelas dapat menyebabkan kekurangan nutrisi yang dibutuhkan tubuh untuk menjalankan fungsi normalnya.

Kekhawatiran serupa juga muncul di Mesir. Ahli gizi dan dokter endokrin memperingatkan bahwa pola makan Tayyibat berpotensi mengurangi asupan protein, kalsium, zat besi, dan berbagai vitamin penting. 

Di sisi lain, diet tersebut justru mendorong konsumsi beberapa sumber gula dan pati dalam jumlah relatif besar. Para ahli juga mengkhawatirkan kemungkinan pasien diabetes, hipertensi, atau penyakit ginjal menghentikan obat-obatan mereka karena percaya bahwa pola makan saja sudah cukup untuk mengendalikan penyakit.

Tetap populer di media sosial 

Meski mendapat peringatan dari otoritas kesehatan, popularitas diet Tayyibat belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Di berbagai grup Telegram dan platform media sosial seperti TikTok, para pengikutnya masih aktif membagikan pengalaman pribadi, termasuk klaim mengenai perbaikan kualitas tidur, peningkatan energi, hingga perbaikan kondisi kesehatan tertentu. 

Fenomena ini bahkan melahirkan restoran dan usaha kuliner yang secara khusus memasarkan menu sesuai prinsip diet Tayyibat. Di tengah kontroversi tersebut, otoritas kesehatan di Arab Saudi menegaskan bahwa pola makan sehat seharusnya didasarkan pada keseimbangan, keberagaman, serta panduan gizi yang berbasis bukti ilmiah, bukan klaim kesehatan yang belum terbukti.

Terkini