Selain Kolak, Sajian Takjil Ramadan Nusantara yang Wajib Dicoba

Rabu, 25 Februari 2026 | 09:41:06 WIB
Selain Kolak, Sajian Takjil Ramadan Nusantara yang Wajib Dicoba

JAKARTA - Bulan Ramadan selalu identik dengan beragam sajian khas yang menggugah selera saat waktu berbuka puasa tiba. Tidak hanya kolak yang menjadi primadona, berbagai daerah di Indonesia juga memiliki kuliner khas Ramadan yang unik dengan cita rasa dan sejarah tersendiri. Keberagaman kuliner ini menjadi bagian penting dari tradisi masyarakat dalam menyambut dan menjalani bulan suci.

Di sejumlah daerah, kuliner khas Ramadan bahkan hanya muncul selama bulan puasa dan sulit ditemukan pada waktu lain. Hidangan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai makanan berbuka, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan dan kekayaan budaya kuliner Nusantara. 

Berikut ini sepuluh kuliner khas Ramadan dari berbagai daerah di Indonesia selain kolak yang patut dikenal.

Bubur Kanji Rumbi dari Aceh

Di Serambi Mekah, bubur kanji rumbi menjadi menu wajib saat Ramadan, terutama di masjid-masjid yang rutin menggelar buka puasa bersama. Bubur berwarna kecokelatan ini kaya rempah dengan pengaruh cita rasa India, sehingga memberi sensasi hangat sekaligus mengenyangkan.

Selama bulan puasa, bubur kanji rumbi mudah ditemukan di kampung kuliner Ramadan. Tradisi berbagi bubur ini juga menjadi simbol kebersamaan masyarakat Aceh. 

Putu Mangkok dari Kepulauan Riau

Berbuka dengan kudapan manis menjadi pilihan banyak orang, dan di Kepulauan Riau, putu mangkok adalah jawabannya. Terbuat dari tepung beras dengan taburan kelapa parut, rasanya manis legit tanpa terasa enek.

Keunikan putu ini terletak pada bentuknya yang menyerupai mangkok terbalik. Selain rasanya yang lembut, tampilannya pun menjadi daya tarik tersendiri di meja berbuka. 

Ketan Bintul dari Banten

Ketan bintul menjadi takjil buruan warga Banten setiap Ramadan. Hidangan berbahan dasar ketan dengan taburan serundeng ini biasanya disantap bersama kuah semur daging atau empal sapi.

Kuliner yang konon sudah ada sejak abad ke-16 ini dipercaya sebagai makanan favorit Sultan Banten. Uniknya, ketan bintul umumnya hanya dijual selama bulan Ramadan. 

Mi Glosor dari Bogor

Di Kota Hujan, mi glosor menjadi menu populer saat berbuka puasa. Mi berwarna kuning cerah ini memiliki tekstur licin karena dibuat dari tepung singkong atau aci, bukan tepung terigu.

Nama “glosor” merujuk pada teksturnya yang mudah meluncur di tenggorokan. Sepanjang Ramadan, mi ini mudah ditemukan di pasar takjil dan pedagang kaki lima.

Kicak dari Daerah Istimewa Yogyakarta

Pasar jajanan Ramadan di Kampung Kauman Yogyakarta identik dengan kicak, takjil manis bercampur gurih berbahan dasar ketan, santan, nangka, dan kelapa parut. Dahulu kicak dibuat dari singkong, sebelum kemudian beralih ke ketan.

Menurut cerita warga, kicak mulai populer sejak 1970-an dan menjadi ikon kuliner Ramadan di Yogyakarta hingga kini.

Bongko Kopyor dari Gresik

Bongko kopyor atau bubur nangka dan kelapa kopyor merupakan takjil khas Gresik yang hanya ramai saat Ramadan. Isinya terdiri dari bubur mutiara, nangka, roti tawar, pisang, kelapa muda, dan santan, lalu dibungkus daun pisang dan dikukus.

Perpaduan rasa manis dan gurih membuatnya digemari sebagai menu pembuka. Di luar Ramadan, kuliner ini relatif sulit ditemukan.

Kuliner Ramadan yang Sarat Tradisi

Keberadaan kuliner khas Ramadan di berbagai daerah menunjukkan betapa kuatnya hubungan antara makanan dan tradisi masyarakat Indonesia. Hidangan tersebut tidak sekadar disajikan untuk berbuka puasa, tetapi juga mencerminkan identitas budaya lokal.

Sebagian makanan bahkan menjadi penanda datangnya Ramadan karena hanya muncul dalam periode tertentu. Tradisi berbagi makanan seperti bubur di masjid atau penjualan takjil musiman memperkuat nilai kebersamaan selama bulan puasa.

Keanekaragaman kuliner Ramadan dari berbagai daerah juga memperkaya pengalaman berbuka puasa masyarakat Indonesia. Dari hidangan gurih hingga kudapan manis, setiap daerah menghadirkan cita rasa yang khas dan menggugah selera.

Melalui ragam kuliner tersebut, Ramadan tidak hanya menjadi momen ibadah, tetapi juga kesempatan untuk mengenal kekayaan budaya Nusantara lewat makanan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Terkini