JAKARTA - Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Kalimantan Timur (BI Kaltim) menunjukkan optimisme terhadap prospek pertumbuhan ekonomi daerah, seiring berjalannya sejumlah proyek strategis di Ibu Kota Nusantara (IKN).
Kepala BI Kaltim, Budi Widihartanto, menekankan pembangunan gedung legislatif dan yudikatif seperti DPR/MPR, Mahkamah Agung, dan Mahkamah Konstitusi dapat menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi Kaltim.
“Selain pembangunan sejumlah proyek di IKN, aktivitas lain yang mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi Kaltim pada 2026 antara lain industri pengolahan dan masuknya investasi baru di berbagai sektor strategis,” ujar Budi.
Dengan fondasi ekonomi yang kuat, BI Kaltim memperkirakan pertumbuhan ekonomi daerah ini mencapai sekitar 5 persen pada 2026. Optimisme ini sejalan dengan penguatan IKN sebagai ibu kota politik sekaligus pusat inovasi digital nasional.
Pembangunan Tahap II IKN dan Investasi Besar
Pembangunan tahap II IKN sudah dimulai, didukung oleh dana swasta dan skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). Investasi swasta murni yang masuk tercatat senilai Rp66,5 triliun, sementara skema KPBU mencapai Rp158,73 triliun.
Menurut Budi, dukungan finansial ini menjadi fondasi kuat bagi percepatan pertumbuhan ekonomi Kaltim, meski tantangan global tetap ada, seperti dinamika politik Amerika Serikat dan kondisi ekonomi dunia yang belum stabil.
“Meski tekanan global masih membayangi perkembangan ekonomi, fondasi ekonomi Kaltim tetap kuat dalam menjaga momentum pertumbuhan,” jelasnya.
Pembangunan tahap II ini juga diharapkan mendorong pertumbuhan sektor konstruksi, penyediaan lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi lokal di sekitarnya.
Industri Pengolahan Migas Sebagai Motor Ekonomi
Sektor industri pengolahan diproyeksikan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi Kaltim. Salah satu proyek besar adalah penambahan kapasitas refinery migas sekitar 50 ribu barel per hari, yang dijadwalkan beroperasi pada triwulan III 2026.
Selain itu, pengembangan eksplorasi gas yang dimulai sejak akhir 2025 diperkirakan akan memberikan dampak nyata terhadap peningkatan produksi industri turunan pada tahun ini.
Aktivitas ini melanjutkan tren positif sebelumnya, termasuk optimalisasi kilang migas, bertambahnya fasilitas pengolahan, dan smelter baru yang mulai menembus pasar ekspor.
“Optimalisasi sektor ini akan terus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah, sekaligus membuka peluang ekspor yang lebih luas,” jelas Budi.
Dengan penguatan industri pengolahan, Kaltim tidak hanya mendapatkan tambahan produksi, tetapi juga menciptakan ekosistem industri yang lebih stabil dan berkelanjutan.
Investasi Swasta dan Kawasan Ekonomi Khusus
Investasi swasta di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) menjadi faktor penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi Kaltim. KEK diharapkan mendorong aktivitas industri, perdagangan, dan layanan pendukung, sekaligus menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat lokal.
Selain sektor industri, sektor pertanian juga mendapat perhatian serius. Pemerintah menargetkan optimalisasi lahan hingga 3.000 hektare, didukung program CSR perusahaan dan penguatan ketahanan pangan. Langkah ini bertujuan meningkatkan produktivitas lokal sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi daerah.
Budi menekankan, keberlanjutan sektor pertanian menjadi komponen penting dalam diversifikasi ekonomi, sehingga Kaltim tidak hanya bergantung pada migas dan investasi industri saja.
Tantangan Ekonomi dan Strategi Antisipasi
Meski prospek positif, BI Kaltim tetap mewaspadai sejumlah tantangan eksternal. Misalnya, penurunan permintaan batu bara global, khususnya dari Tiongkok, diperkirakan turun 1,49 persen (yoy) seiring percepatan transisi energi terbarukan.
Selain itu, perlambatan ekonomi global dan penyesuaian anggaran pembangunan nasional menjadi faktor yang perlu diperhitungkan. Budi menjelaskan, situasi ini justru membuka peluang untuk menemukan model baru dalam pengembangan ekonomi daerah.
“Dari antisipasi ini, kita bisa memperkuat hilirisasi, pariwisata, dan ekonomi kreatif,” jelas Budi. Strategi ini memungkinkan pertumbuhan ekonomi tetap berkelanjutan meski menghadapi tekanan eksternal.
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Kaltim 2026
Dengan semua proyek strategis dan investasi yang masuk, BI Kaltim optimistis pertumbuhan ekonomi daerah mencapai sekitar 5 persen. Pembangunan IKN, industri pengolahan, KEK, sektor pertanian, serta penguatan ketahanan pangan menjadi motor utama pertumbuhan.
Budi menekankan, keberhasilan pembangunan IKN tidak hanya berdampak pada ekonomi lokal, tetapi juga memperkuat posisi Kalimantan Timur sebagai pusat inovasi dan kegiatan politik nasional.
“Dengan adanya proyek ini, ekonomi Kaltim diproyeksikan tetap tangguh dan mampu menjaga momentum pertumbuhan meski tantangan global terus hadir,” ujarnya.
Dampak Positif untuk Masyarakat Lokal
Pembangunan IKN dan proyek strategis lain juga diharapkan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Peningkatan lapangan kerja di sektor konstruksi, pengolahan, dan industri turunan diyakini dapat meningkatkan pendapatan rumah tangga.
Selain itu, pengembangan infrastruktur dan KEK akan memperluas akses masyarakat terhadap fasilitas publik, transportasi, dan layanan ekonomi yang lebih baik. Hal ini sejalan dengan tujuan pemerintah menjadikan Kaltim sebagai pusat ekonomi baru yang inklusif dan berkelanjutan.
Bank Indonesia menilai proyek IKN dan masuknya investasi baru memberikan prospek pertumbuhan ekonomi optimistis bagi Kalimantan Timur.
Meskipun tantangan eksternal tetap ada, strategi penguatan sektor industri, pertanian, dan ekonomi kreatif diyakini mampu menjaga momentum pertumbuhan.
Dengan kombinasi pembangunan infrastruktur, optimalisasi industri, penguatan KEK, dan diversifikasi ekonomi, pertumbuhan Kaltim pada 2026 diproyeksikan tangguh dan berkelanjutan, membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat lokal dan nasional.