Rupiah Menguat Jadi Rp16.834 per Dolar AS Pada 23 Januari 2026

Jumat, 23 Januari 2026 | 12:57:50 WIB
Rupiah Menguat Jadi Rp16.834 per Dolar AS Pada 23 Januari 2026

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Jumat 23 Januari 2026, menunjukkan tren positif yang cukup signifikan.

Setelah dibuka menguat, rupiah berhasil mempertahankan pergerakannya dan berada di level Rp 16.834 per dolar AS pada pukul 12.00 WIB. Hal ini menandakan penguatan sebesar 0,37% dibandingkan dengan posisi sebelumnya yang tercatat di Rp 16.896 per dolar AS.

Pergerakan rupiah yang menguat pada hari ini bukanlah sebuah kejutan mengingat pengaruh berbagai sentimen global dan domestik yang memengaruhi pasar mata uang. Pada umumnya, di pasar spot, mata uang rupiah berada dalam tren menguat, seiring dengan berbagai perkembangan yang terjadi di dalam dan luar negeri.

Penguatan Rupiah dan Katalis Global

Salah satu faktor yang mendorong penguatan rupiah adalah pergerakan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang juga mengalami penguatan. Hingga tengah hari ini, hampir seluruh mata uang Asia bergerak positif, yang menunjukkan adanya sentimen risk-on yang menguntungkan bagi pasar mata uang.

Selain itu, ringgit Malaysia tercatat menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di kawasan Asia. Mata uang negara jiran ini tercatat menguat hingga 0,84% terhadap dolar AS. Hal ini mengindikasikan bahwa investor di kawasan Asia merespons positif berbagai sentimen terkait kebijakan ekonomi global yang sedang berkembang. 

Dolar Taiwan juga mencatatkan kenaikan 0,23%, sedangkan peso Filipina tercatat menguat 0,17%. Dolar Singapura juga menunjukkan tren yang positif dengan kenaikan 0,14%, sementara yuan China mengalami penguatan lebih kecil sebesar 0,08%.

Sentimen risk-on yang cukup kuat ini datang dari sejumlah faktor global yang mendukung kestabilan pasar finansial, di antaranya adalah perkembangan dalam isu geopolitik dan kebijakan ekonomi. 

Salah satunya adalah kebijakan perdagangan internasional yang mulai menunjukkan tanda-tanda mereda, terutama terkait dengan ketegangan antara AS dan Eropa yang sempat mengkhawatirkan pasar.

Selain itu, adanya sinyal positif dari kebijakan ekonomi Presiden AS Donald Trump juga turut berperan dalam menggerakkan pasar. Keputusan Trump untuk meredakan ketegangan terkait isu tarif Eropa serta pengumuman adanya kesepakatan terkait Greenland, memberikan optimisme di pasar. 

Keputusan ini mengindikasikan bahwa ketegangan perdagangan global yang sempat meningkat beberapa waktu lalu kini menunjukkan tanda-tanda mereda, yang pada gilirannya memberikan ruang bagi penguatan mata uang di kawasan Asia, termasuk rupiah.

Dolar AS Melemah, Didorong Sentimen Global dan Dalam Negeri

Di sisi lain, indeks dolar AS mengalami pelemahan 0,03% ke posisi 98,3 pada tengah hari ini. Pelemahan dolar AS ini sebagian besar dipicu oleh sentimen global yang menunjukkan kecenderungan risk-on dan juga keputusan kebijakan dari pemerintah AS. 

Mengingat faktor ini, rupiah pun berhasil mengambil momentum untuk terus menguat terhadap dolar AS, meskipun penguatan lebih lanjut masih dapat terhambat oleh beberapa faktor domestik.

Penguatan rupiah juga tidak bisa dipisahkan dari kebijakan Bank Indonesia yang terus memberikan arahan yang dovish dalam upayanya untuk menjaga stabilitas nilai tukar. 

Dalam pertemuan terakhir Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 21 Januari 2026, bank sentral Indonesia kembali menegaskan kebijakan yang mendukung pertumbuhan ekonomi, yang salah satunya adalah stabilitas nilai tukar rupiah.

Meskipun demikian, Ibrahim Assuaibi, Direktur Traze Andalan Futures, mengingatkan bahwa penguatan rupiah bisa jadi terbatas jika dilihat dari sisi sentimen domestik yang masih berpotensi memengaruhi pasar. Salah satu isu yang masih menjadi perhatian adalah defisit fiskal Indonesia yang terus meluas. 

Defisit anggaran yang membengkak akibat praktik under invoicing ekspor yang kerap terjadi bisa berpotensi menekan stabilitas nilai tukar rupiah. Pemerintah Indonesia kini tengah berusaha keras untuk mengatasi masalah ini dengan berbagai langkah untuk menutup defisit anggaran dan mencegah potensi pelemahan lebih lanjut terhadap mata uang rupiah.

Selain itu, isu independensi Bank Indonesia juga menjadi salah satu kekhawatiran yang dapat mempengaruhi persepsi pasar terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.

Meskipun demikian, pasar nampaknya masih optimistis dengan kebijakan yang diambil oleh pemerintah Indonesia dalam menjaga kestabilan ekonomi dan nilai tukar rupiah.

Faktor Domestik yang Memengaruhi Pergerakan Rupiah

Dari sisi domestik, perkembangan ekonomi Indonesia turut memberikan kontribusi terhadap penguatan rupiah pada hari ini. Sentimen positif muncul seiring dengan harapan pasar terhadap kebijakan fiskal yang dapat mengatasi defisit anggaran negara. 

Pemerintah Indonesia tengah berupaya keras untuk mengurangi defisit melalui berbagai langkah kebijakan yang mencakup peningkatan penerimaan pajak dan pengurangan pemborosan dalam belanja negara. 

Selain itu, beberapa langkah juga tengah diambil untuk menanggulangi praktik under invoicing dalam sektor ekspor-impor yang selama ini dianggap menjadi salah satu penyebab utama penurunan nilai tukar rupiah.

Optimisme pasar terhadap kinerja ekonomi Indonesia juga didorong oleh prospek pertumbuhan yang relatif stabil. Meskipun tantangan global seperti ketegangan perdagangan dan fluktuasi harga komoditas tetap membayangi, Indonesia tetap memiliki daya tahan yang cukup kuat dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global.

Proyeksi Penguatan Rupiah Kedepan

Melihat pergerakan mata uang rupiah yang stabil hingga tengah hari ini, Lukman Leong, Chief Analyst Doo Financial Futures, memperkirakan bahwa rupiah akan terus bergerak dalam kisaran Rp 16.850 hingga Rp 16.950 pada perdagangan hari ini. 

Meskipun demikian, ia juga mengingatkan bahwa penguatan lebih lanjut kemungkinan besar akan terbatas mengingat adanya sentimen negatif domestik yang bisa menjadi hambatan.

Namun, dengan perkembangan positif yang ada, proyeksi pasar untuk pergerakan rupiah di masa mendatang cukup optimistis. 

Jika sentimen positif terkait dengan kebijakan ekonomi Indonesia dan perkembangan global terus berlanjut, ada kemungkinan besar rupiah akan terus memperkuat posisinya terhadap dolar AS dalam beberapa pekan ke depan.

Pada saat yang sama, pergerakan nilai tukar rupiah masih akan dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal seperti kebijakan moneter AS dan ketegangan geopolitik di beberapa kawasan. 

Seiring dengan perkembangan ini, para pelaku pasar akan terus memantau perkembangan ekonomi global, terutama kebijakan yang diambil oleh Bank Indonesia serta dampaknya terhadap stabilitas nilai tukar rupiah.

Secara keseluruhan, meskipun ada tantangan domestik yang perlu diatasi, sentimen positif di pasar global memberikan dorongan bagi penguatan rupiah. Dalam jangka pendek, diharapkan bahwa rupiah akan tetap stabil dalam kisaran yang relatif sempit, dengan penguatan yang terbatas namun signifikan. 

Pasar akan terus menunggu langkah-langkah ekonomi yang lebih lanjut dari pemerintah dan Bank Indonesia untuk memastikan bahwa stabilitas nilai tukar tetap terjaga dengan baik.

Terkini