Vale Paparkan Progres Tiga Smelter Sulawesi Perkuat Hilirisasi Nikel Nasional

Selasa, 20 Januari 2026 | 13:41:26 WIB
Vale Paparkan Progres Tiga Smelter Sulawesi Perkuat Hilirisasi Nikel Nasional

JAKARTA - Upaya Indonesia memperkuat hilirisasi mineral kembali mendapat sorotan setelah PT Vale Indonesia Tbk. memaparkan perkembangan terkini proyek-proyek smelter nikel yang tengah dibangun di Sulawesi. 

Proyek-proyek strategis ini bukan hanya menjadi penopang agenda industrialisasi nasional, tetapi juga mencerminkan kolaborasi global antara perusahaan nasional dengan mitra internasional besar, termasuk Ford Motor Company dari Amerika Serikat.

Paparan tersebut disampaikan langsung oleh Direktur Utama PT Vale Indonesia Tbk., Bernadus Irmanto, dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI di Kompleks Senayan, Jakarta. Dalam kesempatan itu, Vale mengungkapkan progres tiga proyek pengembangan utama yang tersebar di Pomalaa, Bahodopi, dan Sorowako.

Tiga Proyek Strategis Jadi Tulang Punggung Hilirisasi

PT Vale saat ini mengembangkan tiga kawasan tambang besar yang dikombinasikan dengan pembangunan fasilitas pemurnian dan peleburan mineral. 

Ketiga proyek tersebut dirancang untuk mendukung hilirisasi nikel nasional dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global kendaraan listrik.

“Terkait dengan tiga proyek pengembangan yang dilakukan oleh PT Vale; pertama mungkin saya mulai dari Pomalaa di Sulawesi Tenggara. Ini adalah proyek yang dilakukan bersama atau di jalankan Vale bersama partner. Partner-nya adalah Huayou, perusahaan China, dan kemudian Ford Motor US,” kata Bernadus Irmanto.

Ketiga proyek ini masing-masing memiliki karakteristik dan tantangan berbeda, namun secara keseluruhan diarahkan untuk menghasilkan produk nikel olahan bernilai tambah tinggi.

Pomalaa Jadi Proyek Investasi Terbesar

Proyek Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa di Sulawesi Tenggara menjadi sorotan utama karena nilai investasinya yang paling besar. Berdasarkan data yang dipaparkan Vale, nilai investasi proyek ini mencapai US$4,5 miliar melalui kolaborasi dengan Ford Motor Company dan Huayou.

Hingga Desember 2025, progres konstruksi pabrik high-pressure acid leaching (HPAL) di Pomalaa telah mencapai 50 persen, sementara pembangunan sektor tambang sudah menyentuh 60 persen. Proyek ini menyerap lebih dari 5.000 tenaga kerja dan ditargetkan mulai berproduksi pada Agustus 2026.

“Diharapkan di Pomala pada Agustus bisa selesai paling tidak dua autoclave, dua line. Kemudian, nanti secara reguler, secara bertahap pada Januari 2027 itu sudah selesai semuanya,” ungkap Bernadus.

Pabrik HPAL Pomalaa dirancang memiliki kapasitas produksi sebesar 120.000 ton mixed hydroxide precipitate (MHP) per tahun yang akan menjadi bahan baku penting industri baterai kendaraan listrik.

Bahodopi Sudah Masuk Tahap Operasional

Sementara itu, proyek smelter Vale di Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah, telah melangkah lebih maju. Blok Bahodopi dengan luas mencapai 22.699 hektare dilaporkan sudah mulai beroperasi sejak kuartal pertama 2025.

Untuk sektor tambang, konstruksi Fase 1 telah mencapai 99 persen. Saat ini, perusahaan berfokus pada persiapan penyelesaian Fase 2 yang ditargetkan rampung pada 2027. Di sisi lain, pembangunan pabrik HPAL hasil kemitraan dengan GEM dan EcoPro juga terus berjalan.

Pabrik HPAL di Bahodopi memiliki kapasitas produksi 66.000 ton MHP per tahun. Hingga kini, progres pembangunannya telah mencapai 22 persen dan ditargetkan mulai beroperasi pada rentang 2026 hingga 2027 dengan total investasi sebesar US$2 miliar.

Sorowako Masih Hadapi Tantangan Progres

Di Sulawesi Selatan, PT Vale bersama Huayou mengembangkan proyek IGP Sorowako Limonite di Blok Sorowako seluas 70.566 hektare. Proyek ini diarahkan untuk mendukung hilirisasi nikel limonit yang menjadi bahan baku penting dalam industri baterai.

Namun, dibandingkan dua proyek lainnya, progres Sorowako tercatat paling lambat. Hingga kini, pembangunan tambang baru mencapai 37 persen, sementara progres pabrik HPAL masih berada di angka 17 persen. 

Fasilitas ini dirancang memiliki kapasitas produksi 60.000 ton MHP per tahun dan ditargetkan beroperasi penuh pada 2027.

“Di Sorowako, ini ada joint venture juga antara Vale dan Huayou, walaupun partner yang kemudian akan menjadi partner ketiga masih dalam assessment. Namun, ini mungkin secara progres ini yang paling terlambat dibandingkan dengan Pomala dan Bahodopi,” tegas Bernadus.

Ia mengakui bahwa keterlambatan tersebut dipengaruhi oleh lambatnya proses dari pihak ketiga yang terlibat dalam pengembangan proyek.

Permohonan Tambahan Kuota Produksi Nikel

Di luar paparan progres proyek, Vale juga menyampaikan permohonan dukungan kepada DPR terkait tambahan kuota produksi bijih nikel. Meski telah memperoleh persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 dari Kementerian ESDM, kuota yang diberikan dinilai belum mencukupi.

Bernadus mengungkapkan bahwa kuota produksi yang disetujui saat ini hanya sekitar 30 persen dari volume yang diajukan. Kondisi ini dikhawatirkan mengganggu komitmen pasokan bahan baku ke proyek-proyek smelter yang tengah dikembangkan.

“Jadi yang kemudian menjadi permohonan dukungan kami adalah terkait dengan kuota penambangan atau produksi ore dari tambang kami di Pomalaa, Bahodopi, dan Soroako,” kata Bernadus.

“Namun demikian, kuota yang diberikan kepada Vale sekitar 30 persen dari apa yang kami minta kemungkinan bisa tidak akan bisa memenuhi komitmen-komitmen kami terhadap pabrik-pabrik yang tadi saya jelaskan di atas,” sambungnya.

Risiko Terhadap Komitmen Industri dan Pemegang Saham

Menurut Bernadus, keterbatasan kuota produksi berisiko mengganggu jadwal pasokan bahan baku ke mitra industri sekaligus berdampak pada komitmen perusahaan kepada para pemegang saham. 

Oleh karena itu, Vale berharap pemerintah membuka ruang untuk revisi RKAB agar volume produksi bisa disesuaikan dengan kebutuhan riil proyek hilirisasi.

“Jadi mudah-mudahan kami PT Vale bisa mendapatkan kesempatan untuk menganjurkan revisi RKAB dan juga mendapatkan volume yang cukup untuk memenuhi komitmen terhadap partner dan juga komitmen terhadap pemegang sang kami,” harapnya.

Dengan kelanjutan proyek-proyek ini, Vale optimistis dapat berkontribusi signifikan terhadap agenda hilirisasi nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam industri nikel global.

Terkini